Senin, 13 Juni 2016

Finding Dory, Sebuah Ruang Visual Bawah Laut Penuh Makna

Liburan lebaran sebentar lagi. Ada satu hal yang paling ditunggu anak-anak kali ini. Mereka pasti sudah tak sabar ingin segera menonton film Finding Dory. Film animasi tiga dimensi yang diproduksi Pixar Animation Studios ini memang layak ditonton.  Film ini mengangkat tema penuh makna tentang pentingnya sebuah keluarga. Bagi masyarakat Indonesia, Idul Fitri identik dengan momen kunjungan antarkeluarga untuk saling bermaafan. Kehadiran film Finding Dory bisa menjadi pilihan yang tepat. Melalui film ini, anak-anak tidak hanya dapat lebih memahami  tradisi pertemuan keluarga, tetapi juga dapat belajar tentang kasih sayang.  

Sebagai sekuel dari Finding Nemo,  Finding Dory yang kembali disutradarai Andrew Stanton juga masih menampilkan Nemo (disuarakan Hayden Rolence),  Marlin (ayah Nemo, disuarakan Albert Brooks), dan tentu saja Dory (disuarakan Ellen DeGeneres). Mereka bertiga melakukan perjalanan panjang dalam upaya membantu Dory untuk menemukan keluarganya di California, yang sayangnya Dory sendiri lupa tepatnya berada di mana. Maklum saja, Dory memang ikan pelupa, dan ia sempat terpisah dari sahabat-sahabatnya itu karena –sama seperti kasus Nemo—ia yang ditangkap oleh manusia. Hanya saja, manusia yang menangkapnya kini adalah para penyelamat biota laut. 

Dialog-dialog jenaka, kadang mengharukan, bukan sebatas percakapan biasa, tetapi  membawa pesan yang mudah dicerna. Ditambah lagi sejumlah adegan kejar-kejaran yang kadang menggelikan sekaligus tegang. Semuanya divisualisasikan dalam ruang bawah laut yang kaya warna-warna kontras.  Elemen-elemen laut disajikan dengan detail-detail yang indah, lengkap dengan aneka jenis makhluk laut yang tampilannya imajinatif.

Dalam konteks studi tentang ruang (proxemics), Finding Dory berhasil menyampaikan pesannya melalui ilustrasi ruang visual bawah laut yang penuh makna. Film ini juga mampu mempresentasikan objek dan waktu petualangan karakternya yang menimbulkan rasa penasaran penonton. Dalam hal ini, ruang bawah laut adalah wadah bagi Dory sebagai objek dan karakter visual utama, yang berenang dengan pergerakan cepat melewati peristiwa demi peristiwa sebagai waktu perjalanan penuh petualangan. Pertemuan Dory dengan Bailey, sang Paus putih, dengan Hank, si Gurita, atau saat ia tertangkap untuk dikarantina dan dipindahkan ke wilayah lain, menciptakan adegan-adegan yang tidak monoton. Mengulang sukses gaya bercerita di Finding Nemo, secara perlahan tetapi pasti, penonton di film ini digiring untuk memahami makna pesan tentang pentingnya arti keluarga, nilai-nilai persaudaraan, persahabatan, perjuangan, sifat tidak mudah menyerah, keyakinan serta semangat. Rasa dan hasrat Dory sebagai ikan adalah metafora dari perasaan dan hasrat pada manusia secara realitas dan apa adanya, sehingga  mendorong anak-anak untuk ikut merasakan, dan yang terpenting adalah memahami makna pesannya.

Minggu, 12 Juni 2016

7 Kekuatan Visual “horor” The Conjuring 2

Jangan sembarang bermain Ouija, papan spirit atau papan bertuliskan alfabet dan angka yang dapat berbicara. Gara-gara habis bermain Ouija,sebuah keluarga yang  tinggal di Enfield, Inggris mendadak tak lagi bisa hidup tenang.

Setidaknya itu pesan singkat yang melatarbelakangi kasus Enfield Poltergeist yang terjadi pada tahun 1977 hingga 1979. Melanjutkan sukses  the Conjuring , dalam film The Conjuring 2 para penonton juga kembali diajak untuk melakukan kilas balik petualangan pasangan paranormal  Ed dan Lorraine Warren untuk mengungkap kasus supranatural di Enfield tersebut.  Sebuah rumah kecil di Enfield, Inggris,  yang menjadi setting film ini didesain secara lebih artistik untuk membangun kesan horor yang lebih dramatis.

Film The Conjuring 2 diputar serentak di Indonesia bertepatan dengan bulan Ramadhan, di saat para setan-setan jahat justru dibelenggu agar tak mengganggu mereka yang sedang berpuasa. Barangkali karena alasan itu pula, kita jadi penasaran ingin menonton film hantu ini.
Meskipun The Conjuring 2 masih menggunakan gaya lama untuk “menakut-nakuti” penontonnya, akan tetapi setidaknya ada 7 kekuatan visual  gaya horor yang menarik untuk dicatat.  7 kekuatan visual  itu seluruhnya berpusat pada tokoh Janet Hodgson, yaitu:

1.    Kisah Nyata  Janet
Sebuah film horor yang diangkat dari kisah nyata umumnya lebih menarik perhatian, karena penonton diyakinkan bahwa narasi visual yang disajikan bukanlah kisah rekayasa.  Kisah nyata Janet Hudgson, usia 11 tahun, yang kerasukan hebat di rumahnya sendiri, pernah menyita perhatian polisi, dan sejumlah paranormal setempat pada masa itu. Kasus Janet konon menimbulkan pro kontra antara yang percaya dan yang menganggapnya hanya kisah bohong belaka.
2.    Karakter Visual Janet
Janet Hudgson adalah gadis kecil berambut pirang yang biasanya selalu ceria. Namun keceriaan itu mendadak hilang, ketika ia harus mengalami ketakutan luar biasa setiap hari, bahkan setiap detiknya karena dihantui arwah jahat Bill di rumah itu. Dalam kesaksiannya, Janet mengatakan ia selalu diikuti, dibisiki, diangkat, ditarik, dipegang, dan kadang dihempaskan oleh kekuatan yang tidak terlihat.
3.    Ruang Kamar Tidur Janet
Ruang kamar tidur Janet menjadi setting yang natural namun tetap artistik. Ruang ini juga mampu  hadir sebagai saksi bisu, tempat  pergulatan Janet melawan rasa takut menghadapi arwah yang menghantuinya.  Hal ini diperlihatkan melalui penataan tempat tidur yang sederhana, dinding bertempelkan puluhan salib yang berkesan dingin, properti yang bergerak sendiri dan berantakan, dan tentu saja nuansa kegelapan khas film horor.
4.    Dialog Janet
Dialog Janet dengan kakak perempuannya, lalu saat diwawancarai oleh Lorraine Warren, menimbulkan rasa penasaran sekaligus kengerian tersendiri, karena penonton diajak untuk menantikan setiap kata yang terucap dari bibir Janet, dan kata-kata itu bunyinya kerap di luar perkiraan penonton.  
5.    Suara Seram Janet
Suara seram Janet yang keluar saat ia dirasuki oleh sosok lelaki, hantu bernama Bill, dihadirkan dengan nada yang parau, berat, dan kering. Suara seram tersebut mampu menimbulkan imajinasi tentang sosok hantu yang jahat, tak berperikemanusiaan, dan siap membunuh siapa saja.  
6.    Ekspresi Janet
Ekspresi kebanyakan orang Inggris yang datar tidak tercermin pada wajah Janet.  Sebaliknya Janet lebih banyak menampilkan ekspresi kaku, dingin, ketakutan dan ketakberdayaan yang diperlihatkan melalui sorot matanya. Penonton berhasil diajak untuk ikut merasakan sosok kecilnya yang terpuruk, sendirian, sementara tak seorang pun bisa menolongnya.  
7.     Fenomena Poltergeist  Janet
Fenomena poltergeist, berupa benda-benda yang bergerak dan melayang sendiri di dalam ruangan,termasuk tubuh Janet yang berulang kali terangkat oleh kekuatan gaib, menimbulkan ketegangan tersendiri, membuat penonton seperti ikut tertarik, terdorong, dan terhempas dalam ruang kegelapan.

Sebagai tontonan yang dapat memacu detak jantung, membangun ketegangan, dan membuat penonton ikut berhenti bernafas karena ketakutan, maka The  Conjuring 2 cukup berhasil.  

Selasa, 31 Mei 2016

Strategi Visual Iklan Layanan Masyarakat (ILM)

Iklan Layanan Masyarakat (ILM) atau dalam bahasa Inggris diistilahkan sebagai Public Service Announcement (PSA) adalah suatu iklan yang bertujuan menyampaikan pesan sosial kepada masyarakat dengan sifat mempersuasi, mengajak, mengimbau, membangun kesadaran, membangkitkan kepedulian, mendorong untuk terlibat, ikut memikirkan, mengubah perilaku, bahkan bertindak terhadap sejumlah permasalahan yang sedang terjadi dan bisa mengancam harmonisasi lingkungan hidup.

Foto: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/4c/c6/66/4cc666a30253e2ec9a3ba48f18ccb18e.jpg
Ada 9 strategi yang dapat digunakan untuk memvisualisasikan pesan di dalam ILM:
1. Strategi Rasional
Menyampaikan pesan apa adanya, mudah dicerna, sesuai kenyataan, tidak menggunakan kalimat bersayap, berfokus pada praktik, fungsi, dan dapat memuaskan kebutuhan masyarakat.
2. Strategi Humor
Menyampaikan pesan dengan cara jenaka, untuk menarik perhatian, sehingga pesan dapat diterima dengan cara yang menghibur dan mudah diingat.
3. Strategi Rasa Takut
Menyampaikan pesan dengan cara memberi rasa takut, untuk memperbaiki motivasi, menunjukkan konsekuensi negatif atas tindakan yang berbahaya, mengganggu dan tidak aman.
4. Strategi Patriotik
Menyampaikan pesan dengan memberi kesan patriotik, untuk menambah kepercayaan masyarakat, misalnya dengan menampilkan figur publik, atau sosok yang memiliki citra positif.
5. Strategi Kesalahan
Menyampaikan pesan dengan cara memvisualisasikan perilaku atau tindakan seseorang yang salah/keliru, sebagai bentuk sindiran atas perbuatan yang berpotensi menimbulkan bahaya bagi dirinya dan orang lain, mengganggu, mengancam, dan menimbulkan ketidaknyamanan.
6. Strategi Simbol
Menyampaikan pesan dengan cara menampilkan simbol-simbol atau tanda visual yang telah menjadi konvensi di masyarakat sebagai jembatan untuk menginterpretasikan pesan.
7. Strategi Pengandaian
Menyampaikan pesan dengan cara membangun harapan melalui pengandaian untuk mencapai tujuan bersama demi masa depan yang lebih baik.
8. Strategi Emosional
Menyampaikan pesan dengan pendekatan psikologis agar komunikasi lebih mengena dan menyentuh perasaan masyarakat, sehingga mereka terdorong untuk segera mengubah sikap, lebih peduli, dan ikut bertindak. 
9. Strategi Kaidah 
Menyampaikan pesan dengan cara menonjolkan kaidah atau aturan-aturan sosial yang berlaku di masyarakat, dengan cara yang hati-hati, agar tidak menyinggung suku, agama, ras, dan adat istiadat (SARA).

Referensi:
Pujiyanto (2013), Iklan Layanan Masyarakat, Yogyakarta: Penerbit Andi

Kamis, 05 Mei 2016

Half-Day Workshop: Terampil Melukis Kaus Dalam 3 Jam

Siapa pun kini bisa terampil melukis kaus. Cukup luangkan waktu Anda setengah hari untuk menjajal keterampilan ini. Setelahnya, Anda akan ketagihan untuk terus berkarya, dan menciptakan aneka desain kaus buatan Anda sendiri.

Forum Kegiatan Keilmuan Desain (FOKDES) yang diprakarsai oleh Winny Gunarti (dosen, peneliti, trainer, penulis, dan pemilik blog http://arti-kata.blogspot.co.id), alumnus Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB, serta pengajar tetap di Desain Komunikasi Visual, Universitas Indraprasta (Unindra) PGRI, menyelenggarakan berbagai workshop seni dan desain setengah hari (Half-Day Workshop). FOKDES juga menyelenggarakan One-Day Seminar untuk penulisan makalah ilmiah, teknik menulis cerita, perancangan desain dan media, desain dan komunikasi periklanan, termasuk di dalamnya perancangan storyline dan storyboard, serta trik menulis skenario televisi/film.

Ayo, isi waktu senggang Anda dengan kegiatan yang bermanfaat, prospektif dan menyenangkan !




Untuk mengikuti Pelatihan Seni Melukis Kaus, caranya:

      Kumpulkan peserta workshop minimal 10 orang
      Tentukan sendiri lokasi untuk kegiatan workshop
      Workshop bisa dilakukan saat pagi hari dan sore hari, berlangsung sekitar 3 jam.
      Jadwal pelaksanaan workshop bisa diatur sesuai perjanjian.
      Biaya workshop  Rp 300.000, per orang. (penyelenggaraan di luar wilayah Jakarta dan 
      sekitarnya ada penambahan biaya transportasi)
      Biaya sudah termasuk : - peralatan melukis (cat, 2 kuas, palet),  satu kaus untuk dilukis, snack, dan sertifikat.
      Kirimkan data dan kontak Anda melalui email ke Sekretariat FOKDES:  winnygw@gmail.com

Minggu, 14 Februari 2016

Kreativitas Daur Ulang : Gantungan Kunci Dari Kawat


Untuk membuat produk kreativitas gantungan kunci dari kawat, diperlukan peralatan sebagai berikut: Kawat gulung kecil, lem refil fox, gunting, kertas koran secukupnya, lakban kertas, pilox atau cat shintex warna apa saja, dan kuas. 


Dokumentasi Tim Abdimas DKV Unindra PGRI


Berikut proses pembuatan gantungan kunci dari kawat berbentuk tangan: 

1. Potong kawat sekitar 8-10 cm dengan gunting. Buat perkiraan ukuran jari tangan.
2. Buat 6 potongan kawat, 5 untuk rangka jari tangan, 1 untuk rangka telapak tangan.
3. Ambil sobekan kertas koran, lalu tempelkan pada kelima potongan kawat dengan lem.
4. Penempelan kertas koran dilakukan dengan cara menggulung perlahan.
5. Gunakan jari telunjuk untuk me-lem, jari-jari lain untuk menggulung dan melipat.
6. Tempelan pada kawat dimulai dari tengah kawat lalu bergerak ke atas.
7. Lakukan hal yang sama terhadap kelima potongan kawat tersebut.
8. Potongan kawat keenam dipakai sebagai telapak tangan.
9. Buat sobekan kertas koran, lalu lipat berbentuk segiempat. 
10. Lipatan segiempat juga dilem sedikit-sedikit pada salah satu ujung kawat.

Dokumentasi Tim Abdimas DKV Unindra PGRI

11. Lalu gabungkan kelima jari kawat dengan kawat yang berbentuk segi empat.
12. Pilin keenam tangkai kawan hingga membentuk pergelangan tangan.
13. Buatlah tempelan kertas koran segi empat lagi yang lebih tebal agar rangka telapak     tangan kokoh.

Dokumentasi Tim Abdimas DKV Unindra PGRI
14. Bentangkan kelima jari kawat, lalu mulailah menggulung dan melipat lagi dengan kertas koran sedikit-sedikit, hingga seluruh rangka terbungkus dengan kertas koran. 

Dokumentasi Tim Abdimas DKV Unindra PGRI
15. Gunakan contoh telapat tangan kita sendiri untuk menyesuaikan ketebalan bentuk.
16. Pembungkusan terhadap rangka pergelangan tangan juga dilakukan sedikit demi sedikit hingga ketebalannya sesuai dengan rangka jari-jari dan telapak tangan.
17. Untuk membuat kesan otot tangan, dapat ditambahkan sobekan kerta koran pada punggung rangka tangan.
18. Untuk mengaitkan rantai gantungan kunci, buat pengait dari lekukan kawat di bagian bawah kerangka tangn.
19. Sebagai pembungkus terakhir pada rangka tangan dan untuk lebih menguatkan, dapat digunakan lakban kertas.
20. Rangka tangan yang sudah terbungkus rapi dapat langsung dicat menggunakan kuas atau disemprot dengan cat pilox warna apa saja.

Kreasi gantungan kunci dari kawat ini pernah dipraktikkan dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat, oleh DKV, Unindra PGRI, Jakarta, di Lembaga Pendidikan Gratis Bagi Anak-anak Pemulung Taman Rahmah Jatipadang, Jakarta Selatan. Selamat mencoba!

Ide Kreasi: Ndaru Ranuhandoko

Selasa, 12 Januari 2016

Mendesain Karakter Animasi a la Tony White

Karakter tokoh dalam film animasi sama halnya dengan karakter pada film 'live', yaitu perlu memiliki kekuatan visual agar mampu mendukung narasi. Di dalam film animasi, kita bisa menghadirkan tokoh 'manusia kartun' dengan mempertimbangkan dimensi-dimensi 'manusia hidup' yang mampu membangun imajinasi penonton. Akan tetapi, mendesain karakter manusia secara visual melalui animasi memungkinkan bentuk kreativitas yang lebih bebas. Kekuatan visual dimensi manusia pada karakter animasi berarti memvisualisasikan tokohnya secara fisik, khususnya melalui penampilan fasial dan postural. Penampilan fasial menunjuk pada karakter wajah dan ekspresi. Sedangkan penampilan postural menunjuk pada karakter tubuh dan gerakan-gerakan yang menjadi ciri khasnya. 

Pakar animasi Tony White (2009) dalam bukunya yang berjudul How To Make Animated Films, Tony White's Complete Masterclass on The Traditional Principles of Animation, merumuskan empat hal penting dalam mendesain karakter animasi, yaitu:


Sumber Gambar: https://www.amazon.com/How-Make-Animated-Films-Masterclass/dp/0240810333

1. Personality
Personality atau personalitas karakter tokoh perlu ditetapkan. Personalitas berarti menentukan jenis kepribadian seperti apa yang ingin ditampilkan sebagai ciri karakter tokoh. Penetapan ini akan memengaruhi gaya ilustrasi dan gaya pilihan warna dalam pembuatannya. Penetapan personalitas umumnya mengacu pada karakter protagonis (karakter yang baik) dan karakter antagonis (karakter yang kurang baik)


2. Style
Style  atau gaya ilustrasi terkait dengan penetapan personalitas. Gaya yang ditampilkan berperan penting untuk memberi kesan awal apakah tokoh memiliki karakter yang lembut, halus, agresif, keras, kaku, atau tegas. Gaya garis ilustrasi merupakan elemen dasar desain yang menunjang penampilan. Kesan visual penonton cenderung berbeda ketika melihat karakter tokoh yang lebih banyak menggunakan garis lengkung, dan karakter tokoh yang didominasi garis lurus. Penggunaan garis lengkung cenderung mengesankan karakter yang lembut dan ramah. sebaliknya dominasi garis lengkung dan tebal cenderung memberi kesan kaku dan keras. Demikian pula untuk pilihan gaya warna yang menjadi ciri khas karakter tokoh.

3. Attitude
Attitude atau sikap tubuh karakter didesain untuk memvisualisasikan sifat-sifat tokoh melalui fisik. Sikap tubuh secara ilustratif mampu membangun kesan tentang sosok yang pemalu, kikuk, penakut, pemarah, dan sebagainya. Setiap sikap tubuh juga dapat didesain melalui gaya ilustrasi yang telah ditetapkan sebelumnya.

4. Proportion
Proportion atau proporsi fisik tokoh dapat mencerminkan karakter tertentu. Visualisasi tokoh dapat didesain dalam proporsi pendek, tidak proporsional, atau proporsional. Artinya, tokoh dapat saja didesain dengan bentuk kepala yang lebih besar dari badannya atau sebaliknya. Tokoh dapat didesain dengan bentuk wajah yang lebar atau kecil, dengan proporsi anggota badan seperti tangan dan kaki yang juga kecil, atau hanya menampilkan telapak tangan saja. Itu sebabnya, karakter tokoh animasi dapat didesain secara kreatif dengan proporsi yang lebih 'bebas'. Imajinasi pun dapat terbangun sesuai dengan karakter tokoh yang diciptakan.



Sabtu, 19 Desember 2015

Tips Praktis Menulis Resensi Film

Menyongsong akhir tahun, biasanya sejumlah bioskop memutar film-film baru untuk merayakan pergantian tahun. Agar hobi menonton kita lebih produktif, tidak ada salahnya jika kita iseng-iseng menuliskan resensi film tersebut. Sebagai sebuah karya seni, film hadir melalui visualisasi yang menarik perhatian mata lewat ilusi gambar, gerakan, musik, dan efek bunyi. Cerita film biasanya dibangun untuk menggugah emosi kita dan membawa pesan yang inspiratif. Film-film dengan peringkat nominasi Oscar, tidak jarang membuat kita merenung setelah menontonnya. Hal itu menandakan dalamnya makna yang disampaikan melalui ceritanya.

Ada berbagai genre atau jenis film, seperti film drama, film horor, film perang, film komedi, film aksi (action), film sejarah, film fiksi ilmiah (science fiction), film koboi, dan film musikal. Film juga dapat dikategorikan sebagai film hidup yang diperankan tokoh manusia, dan film animasi yang diperankan tokoh kartun. Sekarang ini, dengan teknologi 3 dimensi yang semakin canggih, film animasi sudah dapat dinikmati sedemikian 'hidup' nya. Melalui film, kita dapat memperoleh hiburan, pengetahuan, sekaligus inspirasi. Film-film yang bagus, menarik untuk disampaikan kepada orang lain melalui resensi film. Resensi dibuat sebagai bentuk apresiasi terhadap film tersebut dengan cara memberikan masukan, baik itu berupa kritik, pujian, atau saran, dengan menganalisis secara objektif kekuatan dan kelemahan film. Dalam analisis tersebut, kita bisa mengaitkannya dengan konteks sosial budaya, tempat film tersebut diproduksi dan dipertunjukkan.


Untuk menulis resensi film, diperlukan beberapa persiapan dari segi kontennya.
Berikut tips praktis menulis resensi film. Unsur-unsur yang harus kita cermati di dalam meresensi film adalah:
1. Tema cerita, yaitu tema apa yang diangkat dalam film tersebut?
2. Alur cerita, yaitu bagaimana alur cerita yang disajikan? Apakah bergerak maju, mundur, atau kombinasi keduanya?
3. Karakter tokoh, yaitu bagaimana karakter tokoh utama dan tokoh pendampingnya?
4. Latar cerita, yaitu lokasi dan waktu adegan yang disajikan menggambarkan suasana seperti apa?
5. Dialog tokoh, yaitu dialog-dialog penting apa saja yang perlu dikutip di dalam resensi film?
6. Amanat film, yaitu pesan moral apa yang disampaikan melalui film tersebut?
7. Akhir cerita, yaitu bagaimana akhir cerita fil tersebut? Apakah happy ending, sad ending, atau floating alias dibiarkan menggantung untuk mengajak penonton membuat kesimpulan sendiri.

Dalam membuka tulisan pada resensi film, kita bisa memulai dengan gaya-gaya tulisan berikut:
1. Mengawali dengan dialog penting dari karakter tokoh di dalam film.
2. Mengawali dengan gambaran salah satu adegan penting/menggugah di dalam film.
3. Mengawali dengan amanat kehidupan yang terkandung di dalam film.
4. Mengawali dengan gambaran latar cerita yang terkait konteks sosial budaya.
5. Mengawali dengan gambaran permainan dari karakter tokoh utamanya.

Resensi film juga harus menyertakan catatan yang meliputi:
1. Judul film
2. Nama sutradara
3. Nama aktor pemeran utama dan pendukung
4. Nama produser
5. Nama penulis skenario
6. Nama kamerawan (jika diperlukan di dalam resensi filmnya)
7. Nama pemusik (jika diperlukan di dalam resensi filmnya)
8. Durasi film
9. Tahun produksi
10. Penghargaan yang diperoleh, jika ada

Kritikan, pujian, maupun saran dalam resensi film dapat meliputi hal-hal berikut:
1. Permainan dari para aktornya.
2. Pengambilan gambar atau visualisasinya
3. Alur ceritanya
4. Konten atau pesan filmnya
5. Penggambaran latarnya
6. Pengolahan suara atau efek bunyi
7. Pilihan musik yang mengiringi film

Demikian hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam membuat resensi film. Yuk, kita mulai menulis resensi film.

Makna Pandangan atau Tatapan (The Gaze) dalam Budaya Visual

Pernah dilihatin orang nggak?  Terus kita suka bilang, "Apaan lu lihat-lihat?" Gitu, kan? Jangan keliru berucap. Yakin dia se...