Jumat, 30 November 2018

Catatan Orasi Ilmiah di Acara Wisuda ke-65 UNINDRA


MEMAKNAI ENTITAS BUDAYA VISUAL DI MEDIA SOSIAL

Intisari Pesan Orasi Ilmiah di Acara Wisuda UNINDRA ke-65, 31 Oktober 2018
Dr. Winny Gunarti Widya Wardani, M.Ds.

Saat ini, kehidupan masyarakat pada umumnya, dan khususnya di perkotaan, telah mengalami tingkat ketergantungan yang tinggi pada “layar” ruang visual. Gejala-gejala nomophobia atau ketergantungan pada smartphone semakin  mudah ditemukan dan menggejala pada generasi muda. Bahkan sindrom FoMo (Fear of Missing Out) yaitu ketakutan untuk ketinggalan informasi, status terkini, atau segala sesuatu yang perlu di up date, semakin berpotensi menjadi penyakit sosial yang mewabah.
Peradaban manusia saat ini adalah bentuk-bentuk entitas budaya visual yang dihadirkan untuk memuaskan kebutuhannya akan informasi dan hiburan. Pertanyaan mendasar dalam konteks budaya visual, yang mungkin menggelitik sanubari kita sebagai makhluk sosial adalah: pemenuhan "kebahagiaan" seperti apa yang dapat kita temukan dalam kemajuan teknologi visual?  
Dalam arti luas, budaya visual membahas segala sesuatu yang bersifat visual. Budaya visual berperan di dalam pembentukan budaya populer, yaitu suatu aktivitas budaya yang disukai secara massal.  Sedangkan dalam arti yang lebih sempit, budaya visual dibentuk oleh teknologi visual modern seperti televisi, filem, video, permainan virtual, termasuk produk di media sosial seperti instagram, twitter, youtube, facebook, hingga aplikasi pesan instan di ponsel cerdas. Bahkan kini semua artefak budaya visual tersebut dapat diakses hanya melalui perangkat ponsel cerdas. Kita diserbu oleh sensasi bahasa visual. Kita pun menjadi tunduk pada hegemoni teknologi informasi. Kita terjebak di dalam ruang-ruang visual media sosial, menyerap segala sesuatu yang tampak pada layar. Kita sering mengalami kesulitan untuk membuat batasan-batasan moralitas terhadap serbuan informasi yang datang, hingga akhirnya kita cenderung bersikap tidak peduli dan tidak lagi kritis. 
       Bisa dibayangkan betapa padatnya arus bahasa visual di sekeliling kita. Di dalam keseharian kita sebagai pengguna ponsel, tidak jarang terjadi penyebaran secara masif informasi atau gambar/foto dengan muatan yang melanggar kesusilaan, seperti meme-meme yang cenderung melecehkan orang lain, khususnya yang menggunakan objek visual perempuan dan anak-anak. Tidak jarang para pelaku penyebaran informasi dan yang menerima informasi tersebut ikut "terpuaskan" karena menganggap semua itu hanyalah humor belaka. Padahal seharusnya kita bersikap prihatin dan ikut berpikir untuk menghentikannya. 


Penyampaian Orasi Ilmiah di acara Wisuda Unindra ke-65, 2018

Pemerintah juga  telah  mengatur  etika  dalam  berbagi  informasi dan gambar melalui UU ITE, dalam  Undang-Undang  Nomor  19 Tahun  2016 (tentang  perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008) Tentang  Informasi  dan  Transaksi  Elektronik, khususnya  pada  Pasal  45  Ayat  1 yang  berbunyi:  
“Setiap  orang  yang  dengan  sengaja  dan tanpa  hak  mendistribusikan  dan/atau  mentransmisikan  dan/atau  membuat  dapat  diaksesnya informasi elektronik dan/atau  Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan sebagaimana  dimaksud  dalam  Pasal  27  ayat  (1)  dipidana  dengan  pidana  penjara  paling lama  6  (enam)  tahun  dan/atau  denda  paling  banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu  miliar rupiah)”,  https://web.kominfo.go.id/sites/default/files/users/4761/UU%2019%20Tahun%202016.pdf.
Jadilah kita pelaku dan pengguna budaya visual yang cerdas dan bijak. Mari terus mewaspadai dan meningkatkan kesadaran kita tentang bentuk-bentuk entitas budaya visual yang cenderung melahirkan kekerasan simbolik melalui penyebaran informasi di media sosial. Mari membangun kesadaran kita untuk tidak membiarkan pikiran kita terkonstruksi dan dikonstruksi oleh produk-produk budaya yang sebatas memenuhi hasrat sesaat. Sebagai generasi penerus bangsa, kita memiliki tanggung jawab yang besar untuk terus menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang tetap menjaga nilai-nilai kebudayaan dan nilai-nilai keagamaan. Pemenuhan “kebahagiaan” yang dapat kita temukan dalam kemajuan teknologi visual sesungguhnya terletak pada perbuatan-perbuatan kita.

Selasa, 27 November 2018

Catatan dari Pertemuan Forum Diskusi Blogger Bicara

JAKARTA – Forum diskusi Blooger Bicara: Mengawal Kebijakan BPOM Demi Mewujudkan Masyarakat Cerdas pun sempat dilakukan pada Senin (8/10/2018) di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Acara yang di moderatori oleh Maman Suherman dan di hadiri para expert, seperti dr. Eni Gustina, MPH (Direktur Kesehatan Keluarga Direktorat Kesehatan Masyarakat Kemenkes Republik Indonesia), Winny Gunarti Widya Wardani (Pengamat Komunikasi) dan Pratiwi Febry (Peneliti LBH Jakarta). Acara ini mengkritisi kebijakan dari pemerintah dalam hal ini BPOM maupun Kementerian Kesehatan itu sendiri.
SKM ini memang hanya satu dari sebagian macam makanan yang kita konsumsi dan menjadi faktor terjadinya penyakit tidak menular tersebut. Hanya saja jika konsumsi SKM yang berlebih dalam jangka waktu yang lama, bisa saja menjadi faktor teratasnya. Hal ini dapat dijumpai di masyarakat luas, terlebih mereka yang masih belum mengetahui bahwa SKM sebenarnya tidak aman di konsumsi setiap hari terlebih untuk anak-anak.

Seperti yang diketahui surat edaran ini terkesan hanya sebuah teguran saja karena bersifat sementara dan hanya berlaku selama 6 bulan sejak ditandatangani oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan, Suratmono bulan Mei 2018 lalu. Beberapa produsen memang diketahui sudah mematuhi isi dari surat edaran tersebut, walau masih saja ditemukan yang masih membandel terkait kemasan pada SKM.
Jika berbicara sedikit tentang fakta terkait konsumsi SKM, sebenarnya sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka, sekitar tahun 1930-an. Bahkan sebagian besar SKM di tahun 30’an diberikan untuk usia anak-anak. Hal ini yang menyebabkan banyak kasus kematian balita dan anak-anak cukup tinggi. Sejarah dan fakta inilah yang menjadi perhatian para ahli dan pemerhati kesehatan anak, salah satunya Pratiwi Febry, yang juga menjadi salah satu pembicara dalam acara tersebut.
Peneliti dari LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Jakarta ini justru mempertanyakan surat edaran BPOM di tahun 2018 terkait SKM, yang justru tidak sinkron dengan Perka BPOM Nomor 21 Tahun 2016. Bahwa dijelaskan BPOM di Perka tahun 2016 tetap mengkategorikan SKM sebagai susu yang masuk pada bagian dari analognya.
Sedangkan dalam surat edaran di tahun 2018, BPOM mengatakan SKM tidak setara dengan susu jenis lainnya seperti susu sapi, susu pasteurisasi, susu sterilisasi dan susu formula. Hal ini seolah menunjukan inkonsistensi dari BPOM sebagai badan yang menangani masalah pangan nasional.
Tak ingin menjadi boomerang kedepannya, lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia tersebut berharap Kementerian Kesehatan menegur secara tegas Kepala BPOM untuk segera mengevaluasi kategori SKM masuk kedalam kategori susu.
Meskipun pernyataan dr. Eni Gustina, MPH selaku Direktur Kesehatan Keluarga Direktorat Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI yang mengatakan pada Perka BPOM tahun 2016, bahwa SKM masuk dalam kategori susu karena memiliki protein sebanyak 7 persen.
Mengenai protein yang terkandung dalam SKM yang hanya 7 persen saja memang dibenarkan Irma Handayani, MPH sebagai Peneliti Dan Pemerhati Dampak Industri Terhadap Kesehatan Bayi Dan Anak adalah protein yang didapatkan dari hewani yang merujuk kepada susu.
Namun kandidat doktor Kesehatan Masyarakat dan Perilaku Universitas Columbia AS ini tetap tidak membenarkan pengkonsumsian secara rutin terlebih dengan cara yang terdapat dalam kemasan SKM maupun hanya sebagai toping saja karena mengandung gula sebanyak lebih dari 50 persen.
Pernyataan serupa juga sempat diungkapkan peneliti lainnya yaitu Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MSc selaku Ketua Pembina MPGKI. Beliau mengatakan bahwa SKM ini bisa masuk dalam 10 besar kategori pangan yang mengandung kandungan gula tinggi.
Pernyataan para ahli ini yang juga diiyakan Pratiwi Febry dan ikut menyuarakan bahwa SKM bukanlah jenis pangan dalam kategori susu. Untuk itu dirinya bersama para blogger dan pemerhati kesehatan masyarakat berharap ada tindakan lanjutan yang berfokus pada edukasi kepada masyarakat terlebih mereka yang memang tidak mengetahui bahaya SKM jika di konsumsi berlebih.
Pratiwi Febry tidak ingin kejadian di wilayah NTT (Nusa Tenggara Timur) terkait SKM terjadi pula dengan wilayah dan masyarakat lainnya di Indonesia. Sesuai fakta dari Kementerian Kesehatan bahwa di wilayah NTT hampir 100 persen ibu yang selesai memberikan ASI eksklusif langsung menyodorkan anaknya dengan SKM. Hal ini sudah berlangusng cukup lama dan tak heran jika NTT sebagai wilayah di Indonesia dengan kasus stunting tertinggi.
Banyak yang menjadi faktor penyebab kasus seperti ini terjadi di wilayah NTT. Sebut saja dalam hal pendidikan, di wilayah NTT 100 persen pendidikan yang diterima ibu-ibu hanya sebatas SD (Sekolah Dasar) bahkan banyak pula yang tidak tamat. Faktor lainnya kurangnya informasi yang diterima masyarakat khususnya orang tua dari pihak-pihak terkait terlebih pemerintah yang memiliki fakta dan program akan hal tersebut.
Seputar SKM atau Susu Kental Manis memang sebenarnya tidak akan pernah ada habisnya untuk dibahas. Jika pihak yang terkait didalamnya tidak ada niat untuk saling bekerja sama menemukan titik cerah. SKM atau Susu Kental Manis ini memang bukan makanan yang berbahaya secara langsung saat pertama kali di konsumsi tetapi lambat laun pengaruh yang terkandung didalamnya yang sesuai fakta adalah gula, yang justru menimbulkan efek penyakit yang lebih berbahaya dan tidak menular seperti jantung, diabetes dan lainnya. (Kurnia)

Sumber: http://sinarharapan.net/2018/10/peneliti-lbh-berharap-kementerian-kesehatan-menegur-bpom-evaluasi-skm/

Sabtu, 27 Oktober 2018

Sebuah Momen di 1st International Conference of Vocational Higher Education (ICVHE) UI



Acaranya sudah dua tahun berlalu, tapi saya baru menemukan videonya. Bersyukur pernah ikut konferensi ini, mempresentasikan makalah saya, hingga akhirnya meraih Best Paper pada 1st International Conference of Vocational Higher Education, di Universitas Indonesia, pada tahun 2016, mewakili DKV Universitas Indraprasta PGRI, universitas tempat saya mengabdikan diri sebagai pengajar dan peneliti.

Sebuah momen yang  memacu diri saya untuk menghasilkan karya ilmiah yang lebih baik lagi. Karya ilmiah yang saya tuliskan rasanya memiliki banyak kekurangan, namun kalangan akademisi biasa menghargai sebuah originalitas dan kebaruan di dalam sebuah karya ilmiah. Artikel ilmiah saya yang berjudul "Understanding Visual Grammar on The Stop Smoking Public Service Announcement: Analysis of Television Ad 'Vocal Cords Loss Due to Smoke', kini telah dipublikasikan melalui ICVHE Online Proceeding yang diterbitkan Knepublishing.com.

Hikmah yang dapat dipetik dari setiap momen konferensi adalah, menambah wawasan, pengalaman, dan teman-teman baru. Jika Anda adalah seorang akademisi sejati, tidak ada kata berhenti untuk terus meneliti dan menghasilkan pemikiran, kreativitas, dan gagasan yang berdampak pada perkembangan kehidupan manusia sebagai makhluk sosial dan budaya.

Keep doing research and writing!

Jumat, 01 Desember 2017

Catatan Kecil Akhir Tahun 2017

Tahun 2017, menjadi catatan tersendiri buat saya sebagai seorang dosen dan peneliti, karena di tahun ini, ada banyak cerita yang sebenarnya menarik untuk dituangkan menjadi kisah penuh hikmah. Memang tidak semua cerita berakhir dengan bahagia. Cerita duka pun menjadi catatan khusus untuk direnungkan sebagai bentuk introspeksi diri. 

Sebaliknya, saya tergelitik untuk meluangkan waktu menuliskan dua catatan berikut ini. Barangkali, karena kedua catatan ini begitu membekas di hati saya. Semoga apa yang saya tuliskan ini, bisa memberi sedikit gambaran, bahwa kebahagiaan hidup manusia, pada hakikatnya senantiasa bersumber dari perjuangan lahir dan batin, terutama yang ditapaki dengan rasa gembira, dan dijalani dengan penuh kesabaran dan keridhoan Sang Pencipta.  

Catatan penting pertama ialah, pertengahan tahun 2017, Tim penelitian Hibah Dikti Game Visual Novel, dari Tim DKV Unindra PGRI -- trio Dendi Pratama, Winny Gunarti, dan Taufiq Akbar-- berhasil menempuh perjalanan penelitian, mulai dari Yogyakarta, mengunjungi Universitas Amikom untuk bertemu Kawamata Hiruma, sang kreator Visual Novel "Twist Majapahit" pada buan Feruari 2017, hingga berkesempatan terbang keTokyo, untuk ikut berdesakan di keramaian Festival Summer Comiket pada 11-15 Agustus 2017 di Tokyo Big Sight. Di festival tersebut, kami berkesempatan menimba pengalaman dengan bertemu banyak kreator game, dan juga para cosplayer yang bergaya super kreatif. Orang-orang Jepang sangat menghargai kreativitas. Ekspresi para seniman mempunyai tempat tersendiri. Selain berkeliling di area Tokoyo Big Sight yang luas, kami juga menjelajahi pasar game di Akihabara, dan melintasi wilayah-wilayah komersial seperti Shinjuku. Selama tiga malam, kami menginap dan merasakan ketenangan di pinggiran kota Gotokuji. Di kota kecil ini, kami juga mampir ke kuil tempat patung-patung kucing Maneki Neko menjadi catatan harapan masyarakat kota itu.

Ini adalah petualangan spesial, yang pertama, dan menjadi pengalaman tak terlupakan. Terutama ketika upaya kerja penelitian juga memberikan kepuasan batin yang tak ternilai. Padahal, rencana perjalanan ke Tokyo, tadinya hanya sebatas impian di atas kertas, tetapi Tuhan ternyata mengabulkan doa kami dengan caraNya yang tidak terduga. Kami berburu tiket, dan sangat beruntung memperoleh tiket promo ANA ke Tokyo PP hanya 5 juta rupiah, di sana pun kami dapat menyewa apartemen yang besar dengan biaya yang sangat terjangkau. Musim panas di Tokyo membuat kami bisa leluasa memuaskan hasrat berpetualang dan menambah wawasan di berbagai tempat. Tim penelitian kami termasuk yang pertama (dari universitas tempat kami mengabdi sebagai dosen dan peneliti) yang berhasil ke Jepang dengan biaya dari Hibah Dikti, dan kami sangat bersyukur. Terlebih lagi, saya juga mendapat izin untuk membawa kedua putera saya, untuk ikut merasakan perjalanan di negeri sakura tersebut.








Catatan penting kedua ialah, momen spesial di pekan pameran Tugas Akhir Mahasiswa DKV Unindra PGRI bertajuk "Gandrung", yang berlokasi di Aula Gedung Guru PGRI, Jakarta. Pekan pameran yang berlangsung dua kali setiap setahun, yaitu bulan Februari dan September tersebut, kali ini...entah kenapa...menyisakan kenangan yang berbeda. Setelah beberapa tahun membimbing sejumlah mahasiswa, saya sendiri baru menyadari, ternyata ada kepuasan batin tersendiri setiap kali menyaksikan mereka berhasil menyelesaikan kuliahnya dan mengikuti wisuda. Barangkali, karena momen "Gandrung" ini memang baru diselenggarakan beberapa tahun terakhir secara tematik, sehingga gregetnya lebih terasa. Yang jelas, momen "Gandrung" bukan sekadar untuk memamerkan hasil karya atau unjuk kebolehan para mahasiswa yang telah berhasil lulus sidang. Di balik perjalanan panjang yang menguras energi, ketahanan mental, bahkan mungkin menguras finansial mereka demi meraih cita-cita, ada hikmah kehidupan yang lebih berharga untuk direnungkan sebagai manusia ciptaan Tuhan dan makhluk sosial budaya. Kebahagiaan saya masih ditambah dengan kesempatan untuk berfoto bersama beberapa dari mereka sebagai bagian dari kenangan, dan dapat rezeki bingkisan lukisan wajah dari mahasiswa pelukis berbakat Roy Kurniawan.






Saya bersyukur pada Allah SWT, bahwa di tahun 2017 ini, saya memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari semua perjalanan hidup itu.  

Rabu, 14 Desember 2016

Moana: Perempuan dan Jantung Kehidupan

Kekayaan laut dan kesuburan di pulau-pulau yang hijau mendadak dihantui kegelapan, ketika jantung Te Fiti, Sang Dewi Pulau dicuri oleh Maui, manusia yang dibesarkan oleh para dewa. Akibatnya, panen gagal, ikan-ikan menghilang, cuaca tidak bersahabat, dan rakyat yang tinggal di kepulauan  wilayah Samudera Pasifik pun harus menderita berkepanjangan.

Sejak menit pertama dimulai, film musikal animasi 3D Moana sudah mampu membuat penontonnya terpana dengan gambar-gambar fantasi penuh warna. Animasi produksi Disney garapan duet sutradara Ron Clements dan John Musker ini menampilkan detail elemen visual yang begitu “real”. Sebagai pembuka, karakter Mau’i (suara oleh  Dwayne Johnson) dimunculkan mengiringi tuturan narasi yang bergaya flashback, dengan intonasi yang sedikit mencekam, sehingga membuat penonton  mulai penasaran.  

Apakah rakyat harus terus menderita? Tentu saja tidak. Di sinilah, nafas film itu dimulai. Dari suasana mencekam, secara perlahan penonton diajak berpindah untuk menikmati hentakan irama musik pesisir yang gembira. Adegan demi adegan menghadirkan karakter Moana Waialiki (suara oleh Auli’i Cravalho), putri Kepala Suku Tu Waialiki, dari mulai kecil hingga dewasa.  Sosok yang kemudian dibangun untuk merepresentasikan seorang perempuan penjelajah laut yang perkasa di dunia  petualangan samudera.  

Film Animasi 3D Musikal: Moana, Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=LKFuXETZUsI
Sepanjang menonton film animasi musikal ini, penonton terus diajak berpindah secara dinamis dari suasana gembira, mencekam, komedi, sentimental, gembira lagi, tegang lagi, lucu lagi, sentimental lagi, begitu seterusnya, dan secara  keseluruhan sangat menghibur.  Secara visual, kekuatan film Moana terletak pada setting suasana kepulauan dan lautan yang indah, penuh kemilau warna-warna terang yang kontras. Penonton seolah diajak untuk berimajinasi tentang  sumber kehidupan yang tak ada batasnya.

Selain itu, ada Moana dan Maui sebagai tokoh sentral dengan karakter visual  yang kuat. Moana sebagai anak kepala suku adalah khas “seorang putri yang cantik dan  menarik”, digambarkan melalui wajah oval dan mata bulat besar, gaya rambut ikal panjang terurai, tubuh semampai namun terampil memanjat, menyelam, melompat, dan berlari. Kemudian Maui digambarkan sebagai pria yang kuat, sedikit egois, bisa berubah menjadi berbagai makhluk, bertubuh besar yang dipenuhi tato sebagai catatan perjalanannya, namun juga berhati lembut.  

Ditambah lagi, rangkaian lagu yang mengiringi sejumlah adegan penting seolah ikut menguatkan pesan yang ingin disampaikan dalam film ini, bahwa perjuangan hidup menjadi hak dan kewajiban setiap makhluk, baik perempuan ataupun lelaki. Akan tetapi, jantung kehidupan itu sendiri diumpamakan sebagai  “jantung Sang Dewi Te Fiti”, jantung “perempuan”.


Bumi yang direpresentasikan melalui sosok Dewi Pulau Te Fiti adalah bumi yang divisualisasikan dalam bentuk perempuan berselimutkan pepohonan, yang  kesuburan dan kesejahteraan rakyatnya terletak dalam bentuk spiral sebagai “Heart of Te Fiti”.  Itulah sebabnya bumi, tanah air, tempat manusia berpijak, disebut juga  sebagai ibu pertiwi. Film animasi musikal Moana tidak hanya menghibur, tetapi juga diperkaya dengan mitologi. Karakter Moana sang penjelajah tangguh dan Dewi Te Fiti seolah mewakili sebuah pesan yang dalam tentang makna dari jantung kehidupan yang sesungguhnya bagi manusia.  Film Moana secara apik  berhasil mendesain sebuah konstruksi pesan yang dalam, terutama ketika peran gender menjadi bagian di dalam media dan seni, khususnya film animasi.   

Sabtu, 03 Desember 2016

Menulis Artikel Ilmiah; Kriteria Best Paper di Konferensi Internasional

Bagi seorang dosen, melaksanakan kegiatan riset adalah bagian dari Tri Darma Perguruan Tinggi. Tantangannya, dosen pun dituntut untuk selalu kreatif mengembangkan gagasan melalui tulisan-tulisan ilmiah. Cara-cara untuk merangsang kreativitas menulis ini di antaranya adalah harus aktif mengikuti call papers dalam seminar atau konferensi nasional maupun internasional.

Saat saya masih menjadi mahasiswa S3 di Institut Teknologi Bandung dulu, ada kewajiban untuk menerbitkan makalah dalam prosiding dan jurnal, baik nasional maupun internasional. Kewajiban ini semula dirasakan sangat berat, karena tidak mudah untuk menyelesaikan sebuah riset dan menuliskannya dalam bentuk artikel ilmiah. Akan tetapi, dengan berjalannya waktu,  hal yang semula menjadi kewajiban lantas berubah menjadi sebuah keasyikan. Bahkan setelah saya resmi menyandang gelar Doktor,  dorongan untuk terus mengeluarkan gagasan ilmiah menjadi sebuah kebutuhan. Artinya, segala sesuatu yang awalnya tidak biasa dan sulit menjadi hal yang menyenangkan secara akademik. Kuncinya ternyata sederhana, yaitu meniatkan kesungguhan untuk memulai dan tetap bersemangat untuk terus belajar.

Saya teringat sebuah ayat, “....dan apabila dikatakan “Berdirilah kamu”, maka berdirilah kamu, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat...” (QS Al Mujaadilah:11)

Makna ayat ini baru saya pahami belakangan. Alhamdulillah (itupun mungkin baru pemahaman yang sedikit). Akan tetapi, pengalaman saya mengikuti berbagai konferensi nasional dan internasional, baik di dalam maupun luar negeri, akhirnya berhasil mengantarkan salah satu artikel ilmiah saya yang berjudul Understanding Visual Grammar On The Stop Smoking Public Service Announcement: Analysis of Television Ad “Vocal Cords Loss Due To Smoke” untuk meraih Best Paper pada The 1st International Conference of Vocational Higher Education (ICVHE) pada November 2016 lalu. Sebuah Konferensi Internasional dari Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia yang mengusung tema “Innovation on Vocational Higher Education”. Konferensi ini sejak Juli telah menyeleksi ratusan makalah riset dan meloloskan 92 riset terbaik dari berbagai universitas, baik di dalam dan luar negeri (Lihat: http://vokasi.ui.ac.id/r1/index.php/id/BeritaVokasi/229.)


Peneliti (baju hijau) bersama rekan-rekan Dosen Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta.

Melalui tulisan ini, saya ingin sedikit berbagi, bahwa ada empat (4) hal yang memungkinkan sebuah artikel ilmiah berbasis riset dapat meraih “Best Paper” dalam Konferensi Nasional ataupun Internasional, yaitu:
1. Novelty (Kebaruan), artinya artikel ilmiah harus menyajikan kebaruan dari objek yang diteliti maupun dalam konteks pembahasannya berdasarkan teori yang digunakan.
2. Originality (Orisinalitas), artinya objek yang diteliti merupakan karya orisinal, sebagai gagasan ilmiah peneliti sendiri, dan belum pernah dibahas oleh peneliti lain.
3. Sistematically (Sistematis), artinya pembahasan objek penelitian mampu disusun secara sistematis dan mudah dipahami oleh semua kalangan, mulai dari latar belakang masalah, tinjauan pustaka, metode atau pendekatan yang digunakan, teori yang dijadikan acuan, serta temuan riset sebagai simpulan penelitian.
4. Relevant (Relevan), artinya pembahasan objek penelitian relevan dengan penerapan dan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, sekaligus dapat menjadi sumbangan pemikiran yang berguna untuk pengembangan ilmu secara teoritis dan praktis.

Semoga bermanfaat. Salam edukasi.

Jumat, 07 Oktober 2016

New MacGyver dan Karakter Richard Dean Anderson yang Tak Tergantikan

Penonton setia dan penggemar fanatik serial televisi “MacGyver” di tahun 1985-1992 barangkali dipenuhi harap-harap cemas ketika akhirnya serial “New MacGyver” diproduksi dan tayang  di jaringan televisi di Amerika dan negara-negara lain di dunia, termasuk di Indonesia (lewat saluran AXN). Kerinduan pada karakter MacGyver yang diperankan oleh Richard Dean Anderson seyogyanya dapat terobati  setelah lebih dari 20 tahun menanti kembalinya kisah petualangan dan aksi sang agen rahasia Angus MacGyver.

Sebagai tontonan mengasyikan di tahun itu, rasa kangen terhadap karakter MacGyver yang diciptakan oleh Lee Davis Zlotoff ini bukan tanpa alasan. Setiap kali menyaksikan akting MacGyver, penonton seperti diajak untuk memahami pesan-pesan kemanusiaan melalui kepribadian seorang agen rahasia yang juga seorang ilmuwan, mantan teknisi di Perang Vietnam.  

MacGyver divisualisasikan memiliki kepribadian yang sederhana, berhati lembut, tidak suka menggunakan kekerasan, apalagi senjata api. Dia juga seorang pekerja keras, setia, gemar menolong, dan meskipun punya wajah yang tampan, dia selalu bersikap sopan pada wanita, alias bukan playboy. Terlebih lagi, dengan kecerdasannya di bidang ilmu pengetahuan alam, dia sigap mencari solusi untuk menghadapi problem-problem yang sulit hanya dengan menggunakan peralatan pisau tentara serbaguna (diistilahkan Swiss Army Knife) dan benda-benda yang ada di sekitarnya. Pikirannya menjadi senjatanya yang utama. Dia seolah membawa pesan pada penonton, bahwa tidak ada benda yang tidak berguna, jangan menganggap remeh apa pun, karena hal-hal kecil dapat menghasilkan manfaat yang besar.

Sumber Foto: http://celebritywc.com/images/richard-dean-anderson-15.jpg dan http://www.cbs.com/shows/macgyver/

Karakter MacGyver yang ditayangkan selama 7 musim telah berhasil menghadirkan tontonan film yang menghibur, mencerdaskan, membangun persepsi yang positif, sekaligus menyentuh hati para penontonnya. Serial ini bahkan telah diangkat sebagai film pada tahun 1994 dalam dua judul, yaitu: MacGyver: Lost Treasure of Atlantis dan MacGyver: Trail to Doomsday.  Penciptaan karakter MacGyver yang  anti-kekerasan tersebut, telah berhasil menjadi sebuah inspirasi yang sulit dilupakan, karena umumnya film aksi masa kini justru  lebih banyak  menghadirkan darah dan kebrutalan perilaku manusia.  

New MacGyver kini memulai debutnya di bulan September 2016 dan ditayangkan sebagai serial di CBS Television dan diperankan oleh Lucas Till, sosok lelaki bertubuh ramping tegap, berwajah runcing, berambut pirang, dengan tampilan sekilas mirip-mirip Richard Dean Anderson. Hanya saja MacGyver tidak lagi ke mana-mana sendirian, tetapi ditemani rekannya Jack Dalton (diperankan George Eads) yang juga gagah dan tampan.  Selain mereka berdua, masih ada tiga teman lainnya yang juga membantu, yaitu Wilt Bozer (Justin Hires), Patricia Thornton (Sandrine Holt), dan Riley Davis (Tristin Mays) yang ahli komputer, tentunya agar tontonan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi yang makin canggih. Mereka menjadi sebuah tim taktis yang tetap bekerja di Yayasan Phoenix di Los Angeles untuk membantu pemerintah Amerika Serikat menyelesaikan masalah-masalah kejahatan di bawah departemen jasa eksternal khusus.

Meskipun New MacGyver tetap berusaha menampilkan gaya MacGyver lama melalui tuturan monolog MacGyver di setiap adegan, dengan tambahan tampilan teks sebagai ensiklopedi tentang materi yang dipakai MacGyver untuk mencipta alat-alat melalui benda-benda yang ada di sekelilingnya, namun kepribadian MacGyver tidak lagi menjadi hal yang dominan. Dalam New MacGyver, penonton diajak untuk mengenal dua karakter yang berbeda secara sekaligus melalui dialog-dialog yang penuh canda.

Dalam situs CBS.com disebutkan bahwa New MacGyver menjanjikan tontonan yang  menyajikan aksi, kesenangan, sekaligus kharisma dari karakter-karakternya. Apakah ini dapat berhasil? Seri di musim pertama ini agaknya masih perlu dibuktikan. Tapi yang jelas, kerinduan penonton terhadap karakter MacGyver yang diperankan Richard Dean Anderson akan sulit tergantikan.

Makna Pandangan atau Tatapan (The Gaze) dalam Budaya Visual

Pernah dilihatin orang nggak?  Terus kita suka bilang, "Apaan lu lihat-lihat?" Gitu, kan? Jangan keliru berucap. Yakin dia se...