Minggu, 23 Desember 2018

Mensyukuri Akhir Tahun Dengan Publikasi Artikel di Book Chapter


Suatu malam di bulan Maret 2018, saya menemukan buku yang berjudul “Camera Branding, Cameragenic  vs Auragenic”,  sebuah buku lama yang ditulis oleh Rhenald Kasali (2013). Namun  saya tertarik untuk membelinya. Dalam buku itu, Rhenald Kasali merumuskan  tentang 10 prinsip yang diperlukan untuk membangun Camera Branding, yaitu: authentic, keunikan, intangibles, fokus, gallery mindset, connected, meaningful, consistently delivered, flavor, dan sustainable.

Yang menarik, setiap kali saya membaca sebuah buku, selalu ada energi positif yang menghampiri.  Demikian pula saat saya membaca buku Rhenald Kasali. Hari itu, apa yang dipaparkan oleh Kasali dalam bukunya tentang Camera Branding langsung menginspirasi  saya untuk mengkaji lebih lanjut, terutama penerapannya dalam sebuah program televisi.  Saya pun memilih studi kasus untuk Program Reality Show , yaitu tayangan  “Rumah Uya”, satu di antara tontonan  Reality Show  yang masih eksis hingga saat ini, dan disiarkan oleh Trans7 sejak tahun 2015.

Menurut saya, pembahasan tentang penerapan Camera Branding dalam Reality Show penting untuk dipahami oleh akademisi, khususnya mahasiswa komunikasi maupun desain komunikasi visual,  karena pada prinsipnya, penyampaian pesan melalui Reality Show tidak dapat dilepaskan dari unsur-unsur visual pembangunnya. Produk tontonan itu sendiri adalah produk budaya massa yang  dapat membentuk persepsi sosial. Apalagi menyongsong tahun politik di tahun 2019. "Camera Branding" dapat menjadi senjata untuk membangun citra seseorang.

Oleh karena itu, saya pun menulis artikel berjudul “Camera Branding Dalam Reality Show Televisi Rumah Uya”.  Tulisan tersebut, kemudian saya ikutsertakan dalam publikasi Book Chapter yang digagas bersama oleh Lintas Budaya Nusantara dengan Departemen Sejarah dan Filologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran.  

Alhamdulillah, di akhir November 2018, tulisan tersebut telah dimuat dalam Book Chapter berjudul “Lintas Budaya Nusantara Dalam Perspektif Kajian Multidisiplin” yang diterbitkan oleh PT. Raness Media Rancage, anggota IKAPI. Distribusinya pun telah di mulai sejak awal Desember lalu.  Selain tulisan saya, buku ini juga memuat 16 topik kajian lainnya tentang budaya, media, dan komunikasi, termasuk kajian desain, seperti artikel berjudul “Tipografi Vernakular: (R)Asa Desa di Kota Sebagai Pengobat Rindu”, karya Agung Zainal MR.

 

Bagi yang berminat untuk memiliki Book Chapter tersebut, kini sudah dapat dipesan melalui Raness Media di nomor telepon 085353147899, atau melalui email: raness.media@gmail.com

Ini adalah sebuah catatan akhir tahun yang  membahagiakan. Sebuah rasa syukur. Terima kasih buat yang sudah menyempatkan diri membaca tulisan ini. Semoga di tahun 2019, selalu ada inspirasi positif buat kita semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makna Pandangan atau Tatapan (The Gaze) dalam Budaya Visual

Pernah dilihatin orang nggak?  Terus kita suka bilang, "Apaan lu lihat-lihat?" Gitu, kan? Jangan keliru berucap. Yakin dia se...