Minggu, 14 Februari 2016

Kreativitas Daur Ulang : Gantungan Kunci Dari Kawat


Oleh: Winny Gunarti
Ide kreasi gantungan kunci: Ndaru Ranuhandoko


Untuk membuat produk kreativitas gantungan kunci dari kawat, diperlukan peralatan sebagai berikut: Kawat gulung kecil, lem refil fox, gunting, kertas koran secukupnya, lakban kertas, pilox atau cat shintex warna apa saja, dan kuas. 

Berikut proses pembuatan gantungan kunci dari kawat berbentuk tangan: 
1.    Potong kawat sekitar 8-10 cm dengan gunting. Buat perkiraan ukuran jari tangan.
2.    Buat enam potongan kawat. 5 untuk rangka jari tangan, 1 untuk rangka telapak tangan.

Dokumentasi Tim Abdimas DKV Unindra PGRI
3.    Ambil sobekan kertas koran. Mulai tempelkan sobekan kertas koran pada kelima 
       potongan kawat dengan lem.
4.    Pada saat melakukan penempelan kertas koran ke kawat, gunakan hanya jari telunjuk 
       untuk mengelem, sedangkan jari-jari lainnya untuk menggulung dan melipat kertas. Ini 
       untuk mencegah seluruh jari kita menjadi lengket.
5.    Penempelan kertas koran pada potongan kawat dilakukan dengan cara menggulung 
       kertas pada kawat secara perlahan-lahan dan dilem sedikit-sedikit.
6.    Tempelan kertas koran pada kawat dimulai dari tengah potongan kawat lalu bergerak 
       ke atas.
7.    Lakukan hal yang sama terhadap kelima potongan kawat tersebut.
8.    Potongan kawat keenam dipakai sebagai telapak tangan. Buat sobekan kertas koran, 
       kemudian lipat sobekan kertas koran itu berbentuk segiempat. Lipatan segiempat 
       dilem sedikit demi sedikit pada salah satu ujung kawat.
9.    Buat tempelan segiempat agak tebal, agar bentuk rangka telapak tangan kokoh.

Dokumentasi Tim Abdimas DKV Unindra PGRI
10. Jika semua potongan kawat telah terbungkus kertas koran, satukanlah keenam 
      potongan kawat tersebut dengan cara memilin bagian bawahnya bersamaan hingga 
      saling berkaitan untuk menjadikannya sebagai rangka pergelangan tangan.
11. Potongan kawat keenam ditempelkan agak ke bawah dari kelima potongan kawat l
      lainnya karena fungsinya sebagai telapak tangan.
12. Bentangkan kelima bagian atas potongan kawat yang terbungkus koran menyerupai 
      rangka jari tangan. Sedangkan potongan kawat yang terbungkus sobekan berbentuk 
      segiempat direkatkan dengan lem sebagai telapak tangannya.
13. Mulailah kembali menggulung rangka jari tangan itu dengan sobekan kertas koran 
      sedikit demi sedikit. Tempelkan setiap sobekan dengan lem secukupnya hingga 
      membungkus semua rangka jari tangan dan telapak tangannya.
Dokumentasi Tim Abdimas DKV Unindra PGRI
14. Gunakan contoh telapak tangan kita sendiri untuk menyesuaikan ketebalan bentuk 
      tangan dari sobekan kertas yang ditempelkan.
15. Jika rangka jari tangan sudah terbungkus rapi dengan sobekan kertas koran, mulailah 
      membungkus kawat pergelangan tangan dengan sobekan kertas koran pula.
16. Sama seperti pada rangka jari tangan, penempelan sobekan kertas juga dilakukan 
      sedikit demi sedikit dan perlahan-lahan. Jika rangka tangan belum terlihat tebal, bisa 
      ditambahkan potongan kawat dan dibungkus lagi dengan sobekan kertas, demikian 
      seterusnya.
17. Penambahan potongan kawat pada punggung rangka tangan juga bisa membentuk 
      otot tangan.
18. Untuk mengaitkan rantai gantungan kunci, buat pengait dari lekukan kawat di bagian 
      bawah kerangka tangan.
19. Sebagai pembungkusan terakhir pada rangka tangan dan untuk lebih menguatkan, 
      dapat digunakan lakban kertas.
20. Rangka tangan  yang sudah terbungkus rapi dapat langsung dicat menggunakan kuas 
      atau disemprot dengan cat pilox warna apa saja.

Dokumentasi Tim Abdimas DKV Unindra PGRI
Kreasi gantungan kunci dari kawat ini pernah dipraktikkan dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat, DKV, Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, di Lembaga Pendidikan Gratis  Bagi Anak-anak Pemulung Taman Rahmah Jatipadang, Jakarta Selata. Selamat mencoba !

Senin, 11 Januari 2016

Mendesain Karakter Animasi a la Tony White

Oleh Winny Gunarti

Karakter tokoh dalam film animasi sama halnya dengan karakter pada film ‘live’, yaitu perlu memiliki kekuatan visual agar mampu mendukung  narasi. Di dalam film animasi, kita bisa menghadirkan tokoh “manusia kartun” dengan mempertimbangkan dimensi-dimensi “manusia hidup” yang mampu membangun imajinasi penonton. Akan tetapi, mendesain karakter manusia secara visual melalui animasi memungkinkan bentuk kreativitas yang lebih bebas.

Kekuatan visual dimensi manusia pada karakter animasi berarti memvisualisasikan tokohnya secara fisik, khususnya melalui penampilan fasial dan postural. Penampilan fasial menunjuk pada karakter wajah dan ekspresi. Sedangkan penampilan postural menunjuk pada karakter tubuh dan gerakan-gerakan yang menjadi ciri khasnya.



Pakar animasi  Tony White (2009) dalam bukunya yang berjudul  How To Make Animated Films, Tony White’s Complete Masterclass on The Traditional Principles of Animation, merumuskan empat hal penting dalam  mendesain karakter animasi, yaitu:  
1.    Personality
Personality atau personalitas karakter tokoh perlu ditetapkan. Personalitas berarti menentukan jenis kepribadian seperti apa yang ingin ditampilkan sebagai ciri karakter tokoh. Penetapan ini akan memengaruhi gaya ilustrasi dan gaya pilihan warna dalam pembuatannya. Penetapan personalitas umumnya mengacu pada karakter protagonis (karakter yang baik) dan karakter antagonis (karakter yang kurang baik).
2.      Style
Style atau gaya ilustrasi terkait dengan penetapan personalitas. Gaya yang ditampilkan berperan penting untuk memberi kesan awal apakah tokoh memiliki karakter yang lembut, halus, agresif, keras, kaku, atau tegas. Gaya garis ilustrasi merupakan elemen dasar desain yang menunjang penampilan. Kesan visual penonton cenderung berbeda ketika melihat karakter tokoh yang lebih banyak menggunakan garis lengkung, dan karakter tokoh yang didominasi garis lurus. Penggunaan garis lengkung cenderung mengesankan karakter yang lembut dan ramah. Sebaliknya dominasi garis lurus dan tebal cenderung memberi kesan kaku dan keras. Demikian pula untuk pilihan gaya warna yang menjadi ciri khas karakter tokoh.
3.      Attitude
Attitude atau sikap tubuh karakter didesain untuk memvisualisasikan sifat-sifat tokoh melalui fisik. Sikap tubuh secara ilustratif mampu membangun kesan tentang sosok yang pemalu, kikuk, penakut, pemarah, dan sebagainya. Setiap sikap tubuh juga dapat didesain melalui gaya ilustrasi yang telah ditetapkan sebelumnya.  
4.      Proportion
   Proportion atau proporsi fisik tokoh dapat mencerminkan karakter tertentu. Visualisasi tokoh dapat didesain dalam proporsi pendek, tidak proporsional, atau proporsional. Artinya, tokoh dapat saja didesain dengan bentuk kepala yang lebih besar dari badannya atau sebaliknya. Tokoh dapat didesain dengan proporsi bentuk wajah yang lebar atau kecil. Tokoh dapat didesain dengan proporsi anggota badan, seperti kaki dan tangan yang kecil atau bahkan hanya telapak tangan saja. Itu sebabnya, karakter tokoh animasi dapat didesain secara kreatif dengan proporsi yang lebih ‘bebas’. Imajinasi pun dapat terbangun sesuai dengan karakter tokoh yang diciptakan.

Jumat, 18 Desember 2015

Tips Praktis Menulis Resensi Film

Oleh Winny Gunarti


Menyongsong akhir tahun, biasanya sejumlah bioskop memutar film-film baru untuk merayakan pergantian tahun. Agar hobi menonton kita lebih produktif, tidak ada salahnya jika kita iseng-iseng menuliskan resensi film tersebut. Sebagai sebuah karya seni, film hadir melalui visualisasi yang menarik perhatian mata lewat ilusi gambar, gerakan, musik, dan efek bunyi. Cerita film biasanya dibangun untuk menggugah emosi kita dan membawa pesan yang inspiratif. Film-film dengan peringkat nominasi Oscar, tidak jarang membuat kita merenung setelah menontonnya. Hal itu menandakan dalamnya makna yang disampaikan melalui ceritanya.

Ada berbagai genre atau jenis film, seperti film drama, film horor, film perang, film komedi, film aksi (action), film sejarah, film fiksi ilmiah (science fiction), film koboi, dan film musikal. Film juga dapat dikategorikan sebagai film hidup yang diperankan tokoh manusia, dan film animasi yang diperankan tokoh kartun. Sekarang ini, dengan teknologi 3 dimensi yang semakin canggih, film animasi sudah dapat dinikmati sedemikian 'hidup' nya. Melalui film, kita dapat memperoleh hiburan, pengetahuan, sekaligus inspirasi. Film-film yang bagus, menarik untuk disampaikan kepada orang lain melalui resensi film. Resensi dibuat sebagai bentuk apresiasi terhadap film tersebut dengan cara memberikan masukan, baik itu berupa kritik, pujian, atau saran, dengan menganalisis secara objektif kekuatan dan kelemahan film. Dalam analisis tersebut, kita bisa mengaitkannya dengan konteks sosial budaya, tempat film tersebut diproduksi dan dipertunjukkan.

Untuk menulis resensi film, diperlukan beberapa persiapan dari segi kontennya.
Berikut tips praktis menulis resensi film. Unsur-unsur yang harus kita cermati di dalam meresensi film adalah:
1. Tema cerita, yaitu tema apa yang diangkat dalam film tersebut?
2. Alur cerita, yaitu bagaimana alur cerita yang disajikan? Apakah bergerak maju, mundur, atau kombinasi keduanya?
3. Karakter tokoh, yaitu bagaimana karakter tokoh utama dan tokoh pendampingnya?
4. Latar cerita, yaitu lokasi dan waktu adegan yang disajikan menggambarkan suasana seperti apa?
5. Dialog tokoh, yaitu dialog-dialog penting apa saja yang perlu dikutip di dalam resensi film?
6. Amanat film, yaitu pesan moral apa yang disampaikan melalui film tersebut?
7. Akhir cerita, yaitu bagaimana akhir cerita fil tersebut? Apakah happy ending, sad ending, atau floating alias dibiarkan menggantung untuk mengajak penonton membuat kesimpulan sendiri.

Dalam membuka tulisan pada resensi film, kita bisa memulai dengan gaya-gaya tulisan berikut:
1. Mengawali dengan dialog penting dari karakter tokoh di dalam film.
2. Mengawali dengan gambaran salah satu adegan penting/menggugah di dalam film.
3. Mengawali dengan amanat kehidupan yang terkandung di dalam film.
4. Mengawali dengan gambaran latar cerita yang terkait konteks sosial budaya.
5. Mengawali dengan gambaran permainan dari karakter tokoh utamanya.

Resensi film juga harus menyertakan catatan yang meliputi:
1. Judul film
2. Nama sutradara
3. Nama aktor pemeran utama dan pendukung
4. Nama produser
5. Nama penulis skenario
6. Nama kamerawan (jika diperlukan di dalam resensi filmnya)
7. Nama pemusik (jika diperlukan di dalam resensi filmnya)
8. Durasi film
9. Tahun produksi
10. Penghargaan yang diperoleh, jika ada

Kritikan, pujian, maupun saran dalam resensi film dapat meliputi hal-hal berikut:
1. Permainan dari para aktornya.
2. Pengambilan gambar atau visualisasinya
3. Alur ceritanya
4. Konten atau pesan filmnya
5. Penggambaran latarnya
6. Pengolahan suara atau efek bunyi
7. Pilihan musik yang mengiringi film

Demikian hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam membuat resensi film. Yuk, kita mulai menulis resensi film.

Minggu, 26 Juli 2015

Membangun Imajinasi Lewat Mendongeng

Menulis cerita sudah biasa, tetapi mendongengkan cerita diperlukan tekniknya. Penulis menikmati asyiknya belajar mendongeng di Wiwin Dongeng Management. Kontak mata, bahasa tubuh, dan kemampuan untuk berkomunikasi dan berimprovisasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam mendongeng. Mendongeng harus mampu membangun imajinasi pendengarnya.

Mendongeng harus kreatif memvisualisasikan kata-kata. Setiap kalimat yang meluncur saat mendongeng menjadi elemen-elemen visual yang membentuk persepsi pendengarnya. Salah satu persiapan mendongeng adalah menjiwai konten cerita yang akan didongengkan. Kita perlu mempersiapkan pembukaan dongeng yang memikat, membangun rasa ingin tahu pendengar hingga menggiring pada klimaks. Di antara momen mendongeng, sesekali diperlukan interaksi dengan pendengar, seperti melontarkan pertanyaan, lelucon, atau menciptakan dialog dengan penonton, sehingga suasana lebih komunikatif dan hidup. Kalau perlu, pendongeng bisa mengajak penonton atau pendengarnya ikut bergerak dan menari, jika kebetulan ada irama musik yang sedang diperdengarkan.

Oleh karena itu, pendongeng juga kerap dituntut untuk mempersiapkan kostum dan perangkat dongeng lainnya, seperti boneka atau benda-benda penunjang yang diperlukan. Di sinilah diperlukan kreativitas dan improvisasi dari pendongeng. Pertahankan terus kontak mata dengan penonton, dan perhitungkan waktu di dalam alur mendongeng. Dongeng yang terlalu lama juga kadang menimbulkan kejenuhan. Setelah itu, sebelum menutup dongeng, jangan lupa menyelipkan pesan moral yang menggugah hati dan pikiran bagi penonton dan pendengar. Selamat mendongeng.

Rabu, 26 Oktober 2011

Check Out My Slide Show

Enjoy my Books ! Slideshow: Winny’s trip to Jakarta, Java, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Jakarta slideshow. Take your travel photos and make a slideshow for free.

Kamis, 09 Juni 2011

Pagelaran Sendratari Putri Ong Tien oleh Mahasiswa UPI Bandung


Sebuah pagelaran sendratari budaya telah dipersembahkan oleh mahasiswa-mahasiswa seni UPI Bandung, pada tanggal 25-26 Mei 2011. Mereka menampilkan sendratari yang diangkat dari buku novel faksi sejarah berjudul "Putri Ong Tien, Kisah Perjalanan Putri China Menjadi Istri Ulama Besar Tanah Jawa".

Kemampuan mereka menerjemahkan teks narasi ke dalam visualisasi gerakan dan paduan irama tradisional patut diberi acungan jempol. Bahasa visual sendratari tidak sekadar menghadirkan gerakan tubuh dan ekspresi wajah. Sendratari adalah salah satu bentuk budaya visual yang juga menghadirkan makna tentang kebudayaan masyarakat tempat aktivitas budaya itu berada.

Jumat, 17 Desember 2010

Resensi Buku Putri Ong Tien di Koran Jakarta


EDISI 861 - 13 NOVEMBER 2010, HALAMAN 4-5.

Kisah mengenai Ong Tien sudah sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Malah, kisah mengenai putri yang berasal dari negeri Tiongkok ini memiliki tempat tersendiri dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara, khususnya di Jawa barat.

Kehadiran novel ini seakan menyegarkan ingatan kita kembali bahwa perkembangan Islam di Nusantara memlilki banyak warna, sehingga amat sulit untuk mengatakan bahwa Islam adalah sebuah agama yang berkembang karena dirinya sendiri, melainkan ada banyak faktor yang mendukungnya, mulai dari aspek kultural hingga politis.

Dalam buku ini dikisahkan bagaimana kisah Ong Tien untuk pertama kalinya bertemu dengan Syarif Hidayatullah yang tidak lain adalah Sunan Gunung Jati, ulama terkemuka penyebar Islam di Pulau Jawa. Saat itu, tabib Syarif Hidayatullah diundang untuk mengunjungi istana kaisar Hong Gie.

Pada kesempatan itu terjadilah peristiwa “legenda” bokor kuningan yang berujung pada keputusan Ong Tien untuk menemui tabib Syarif Hidayatullah yang berada di Pulau Jawa. Perjalanan yang penuh bahaya itu berhasil dilalui. Putri Ong Tien akhirnya bertemu dengan Syarif Hidayatullah, menikah dengannya, memeluk Islam, dan mempelajari Islam dengan lebih mendalam.

Hingga akhir hayatnya Putri Ong Tien digambarkan sebagai perempuan yang patuh kepada suami sebagai kepala keluarga. Apa yang dikatakan oleh sang suami selalu menjadi kekuatan baginya untuk menghadapi konfl ik batinnya, termasuk ketika keinginannya untuk memperoleh keturunan tidak dikabulkan oleh Tuhan. Salah satu kekuatan buku ini adalah kayanya sumber sejarah yang dijadikan rujukan oleh penulisnya.

Hal ini menjadikan kisah Putri Ong Tien tidak kering. Bahkan ada kesan bahwa buku ini menjadi sebuah novel sejarah. Harus diakui, menyatukan fakta historis dalam sebuah novel bukan hal gampang. Kepiawaian penulis untuk menyatukan pecahan puzzle sejarah menjadi sebuah alur cerita yang menarik dan bernas menjadi sebuah keharusan.

Penulis buku ini, Winny Gunarti, tampaknya memiliki kemampuan tersebut. Sayangnya, “penempelan” fakta historis tersebut tidak selalu mulus, sehingga ada kesan fakta tersebut benar-benar sebuah informasi tambahan dan tidak menjadi bagian yang menyatu dalam keseluruhan novel. Barangkali, hal itu disebabkan oleh cara penyampaian fakta yang dilakukan dengan gaya sebuah feature atau karangan khas.

Feature sendiri merupakan genre tulisan jurnalistik. Jika saja penempelan fakta tersebut dilakukan dengan gaya yang lebih sastrawi, maka fakta tersebut akan terasa lebih “menyatu”. Catatan lain mengenai novel ini adalah tidak terbangunnya konflik dan kedalaman kisah. Padahal, cerita mengenai Ong Tien sangatlah menarik.

Jika saja penulis buku ini berani melakukan reinterpretasi fakta sejarah seputar kisah Ong Tien, niscaya novel ini akan lebih mengasyikkan. Sebut saja dengan memperdalam intrik politik dalam istana terkait hukuman yang dijatuhkan kepada selir kaisar ataupun konflik batin istri-istri Sunan Gunung Jati ketika Ong Tien masuk dalam kehidupan mereka. Pendalaman ini pasti akan membuat novel ini tampil lebih menarik lagi.
http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=67683
http://issuu.com/koran_jakarta/docs/edisi_861_-_13_november_2010/4

Peresensi adalah Nigar Pandrianto, pemerhati buku, tinggal di Jakarta 

Jumat, 05 November 2010

Catatan dari Acep Iwan Saidi, Ketua Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB, tentang Buku Putri Ong Tien

Sejarah, pada mulanya, merupakan sebuah “kegiatan” yang termasuk ke dalam ranah seni, bersama-sama puisi, komedi, tragedi, musik, tarian, dan astronomi. Di dalam bahasa Inggris, kata history itu sendiri sebunyi dengan story—keduanya memang berasal dari satu kata, yakni historia. Sebagian orang mengartikan historia sebagai ilmu pengetahuan, sebagian lain menyebutnya cerita. Walhasil, sejarah dan kisah kiranya berada dalam satu kubangan. Dan keduanya membentuk pengetahuan sebelum kemudian disistematisasi menjadi ilmu.

Winny Gunarti, dalam buku ini, menunjukkan kepada kita bagaimana cara kerja sejarawan dan sastrawan secara eksplisit dipadukan. Winny menyebutnya faksi: fakta dan fiksi. Tanpa disebut faksi, antara fakta dan fiksi sebenarnya telah menyatu dalam dirinya. Sebab fakta yang telah dituliskan adalah “fakta tulisan”, fakta dalam perspektif penulis. Jika begitu, fiksi juga menjadi “semacam fakta”. Bedanya, yang satu ditulis sejarawan, yang lain oleh sastrawan.

Dengan memadukan keduanya dalam satu genre tulisan, buku ini menjadi menarik. Di sepanjang perjalanan membaca, kita akan dibawa keluar masuk di antara dua perspektif terhadap realitas masa lalu: rasio sejarawan dan imaji sastrawan . Situasi ini tentu akan memotivasi pembaca untuk melacak sumber lain. Buku yang baik, saya pikir, adalah buku yang memotivasi kita untuk terus berada dalam ketegangan intelektual, untuk terus memburu pengetahuan lebih luas dan dalam hingga sampai pada satu titik filosofis: mengenali, memahami ,dan memaknai diri secara lebih baik.

Dr. Acep Iwan Saidi, Ketua Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB

Rabu, 20 Oktober 2010

Bingkai Berita Trans TV, Menyiarkan Dua Kisah Nyata dari Buku "40 Keajaiban Naik Haji"


Seiring dengan musim haji tahun 2010 ini, Acara Bingkai Berita Trans TV pada hari Selasa, 19 Oktober 2010, Pukul 13.00, mengangkat tema seputar orang naik haji. Dalam dua segmen-nya, program tersebut, mengangkat kisah yang termuat dalam Buku "40 Keajaiban Naik Haji". Kisah yang ditampilkan adalah pengalaman dari Hajah Ibu Aminatun, yang mengalami pengalaman spiritual saat kedua kakinya terasa seperti ditarik oleh bumi, dan pengalaman spiritual dari sang penulis sendiri. Buku "40 Keajaiban Naik Haji", memuat kisah-kisah nyata yang menarik. Sebuah bacaan bagi mereka yang masih penasaran, apakah benar "keajaiban" di Tanah Suci itu benar terjadi.

Jumat, 08 Oktober 2010

Acara Resensi Buku "PUTRI ONG TIEN" di Proresensi Pro2 FM dan Book Review Radio DFM



Bincang-bincang ringan seputar isi buku Putri Ong Tien, Kisah Perjalanan Putri China Menjadi Istri Ulama Besar Tanah Jawa, bersama Winny Gunarti, dipandu penyiar Lia Achmadi, di acara Proresensi yang digelar radio Pro2 FM Jakarta, pada hari Minggu, 3 Oktober 2010, pukul 17.00 WIB. Di acara tersebut, Pro2 FM juga memberikan kuis seputar isi buku berhadiah cinderamata dari PT. Gramedia Pustaka Utama dan Pro2 FM. Acara yang sama juga disiarkan di Radio DFM pada hari Kamis, 14 Oktober 2010, pukul 19.00 WIB, sebagai obrolan langsung penulis dengan penyiarnya bung Gani.

Selasa, 07 September 2010

PUTRI ONG TIEN, Kisah Perjalanan Putri China Menjadi Istri Ulama Besar Tanah Jawa -- Sebuah Faksi



Siapakah Putri Ong Tien?

Dialah Putri Kaisar Hong Gie dari masa Dinasti Ming, yang rela menempuh perjalanan panjang melintasi Laut China Selatan dan Laut Jawa, demi menjadi istri Sunan Gunung Jati. Ulama besar yang pernah mengunjungi Negeri Tiongkok untuk menyebarkan ajaran Islam lewat tata cara ibadah shalat ini telah membuat sang putri kaisar jatuh cinta. Legenda bokor kuningan di perut sang putri yang menghilang berkat kesaktian sang ulama, mampu membuka hati Putri Ong Tien untuk mengikuti ajaran Islam.
Untaian fakta dan fiksi dalam buku ini mengangkat dengan sangat indah suka duka sang putri sebagai seorang putri kaisar, dan saat-saat perjumpaannya dengan Sunan Gunung Jati, serta perjuangannya meleburkan diri dengan kebudayaan-kebudayaan di Cirebon.

Putri Ong Tien memang hanya salah satu putri Tiongkok yang pernah bermukim dan menikah di Tanah Jawa. Namun yang membedakan dirinya dengan putri-putri China lainnya, dia menorehkan sejarah sebagai seorang perempuan asing yang berhasil masuk ke dalam lingkaran keluarga Kesultanan Cirebon, dan ikut dimakamkan di Komplek Pemakaman Keramat Sunan Gunung Jati. Banyak barang kerajinan China peninggalannya yang juga menjadi warisan budaya bernilai tinggi.

Sebuah buku yang menarik untuk dibaca, karena menyajikan sebuah faksi -- fakta dan fiksi -- dengan cara yang ringan dan menyenangkan. Bacaan yang mampu mengajak siapa saja untuk lebih memahami sekaligus menghargai warisan sejarah dan budaya bangsanya.

Dr. Anhar Gonggong, Sejarawan

“Buku ini mempunyai arti penting karena mampu menunjukkan ‘fakta’ adanya hubungan antara China dengan Nusantara. Dengan demikian buku ini memberikan pemahaman paling tidak dalam dua hal. Pertama, China dan Nusantara – dalam arti warga masing-masing – sejak ratusan tahun yang lalu telah mempunyai hubungan yang telah diciptakan melalui berbagai cara yang damai. Kedua, adanya ‘fakta’ bahwa Sunan Gunung Jati telah memperistri puteri China, dan ini juga menunjukkan dua hal; yaitu telah terjadi asimilasi melalui pernikahan dan kaitannya dengan perkembangan Islam khususnya di Cirebon. Buku ini patut dibaca untuk memperluas wawancara tentang diri kita sebagai bangsa yang berkembang dan Bhineka Tunggal Ika”.


Penulis Winny Gunarti
PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I, September 2010.

Kamis, 12 Agustus 2010

Acara Literasi Ramadhan di TV Lokal dan Pro2 FM, Winny Gunarti Mengulas Buku Haji dan Buku Anak Islami


Sejumlah TV Lokal di Indonesia secara serentak menggelar acara Literasi Ramadhan, untuk mengisi acara di bulan Ramadhan. Acara ini berisi tentang ulasan berbagai buku-buku Islami yang telah beredar di pasaran.

Dalam dua episode, penulis Winny Gunarti ikut hadir mengulas dua buku yang telah ditulisnya dan diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama. Buku-buku tersebut adalah: 40 KEAJAIBAN NAIK HAJI, KISAH NYATA PARA TAMU ALLAH DI TANAH SUCI, serta ANAK PUNYA MASALAH, AL-QUR'AN MENJAWAB, 22 MASALAH ANAK-ANAK DAN JAWABANNYA BERDASARKAN AL-QUR'AN.

Dalam acara ini, Winny Gunarti menceritakan berbagai kisah keajaiban ataupun pengalaman-pengalaman spiritual yang pernah dialami oleh para jamaah haji. Banyak kisah yang menarik untuk disimak.
Sedangkan untuk buku anak, dibahas pula beberapa permasalahan anak-anak yang sering dialami sehari-hari, dengan mengambil rujukan jawaban berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an.

Melalui acara ini, diharapkan para penonton dapat memetik hikmah dan manfaat yang positif, sekaligus inspirasi yang berharga. Acara ini dipandu pembawa acara Wira, dan juga disiarkan di radio Pro2 FM.