Jumat, 01 Desember 2017

Catatan Kecil Akhir Tahun 2017

Tahun 2017, menjadi catatan tersendiri buat saya sebagai seorang dosen dan peneliti, karena di tahun ini, ada banyak cerita yang sebenarnya menarik untuk dituangkan menjadi kisah penuh hikmah. Memang tidak semua cerita berakhir dengan bahagia. Cerita duka pun menjadi catatan khusus untuk direnungkan sebagai bentuk introspeksi diri. 

Sebaliknya, saya tergelitik untuk meluangkan waktu menuliskan dua catatan berikut ini. Barangkali, karena kedua catatan ini begitu membekas di hati saya. Semoga apa yang saya tuliskan ini, bisa memberi sedikit gambaran, bahwa kebahagiaan hidup manusia, pada hakikatnya senantiasa bersumber dari perjuangan lahir dan batin, terutama yang ditapaki dengan rasa gembira, dan dijalani dengan penuh kesabaran dan keridhoan Sang Pencipta.  

Catatan penting pertama ialah, pertengahan tahun 2017, Tim penelitian Hibah Dikti Game Visual Novel, dari Tim DKV Unindra PGRI -- trio Dendi Pratama, Winny Gunarti, dan Taufiq Akbar-- berhasil menempuh perjalanan penelitian, mulai dari Yogyakarta, mengunjungi Universitas Amikom untuk bertemu Kawamata Hiruma, sang kreator Visual Novel "Twist Majapahit" pada buan Feruari 2017, hingga berkesempatan terbang keTokyo, untuk ikut berdesakan di keramaian Festival Summer Comiket pada 11-15 Agustus 2017 di Tokyo Big Sight. Di festival tersebut, kami berkesempatan menimba pengalaman dengan bertemu banyak kreator game, dan juga para cosplayer yang bergaya super kreatif. Orang-orang Jepang sangat menghargai kreativitas. Ekspresi para seniman mempunyai tempat tersendiri. Selain berkeliling di area Tokoyo Big Sight yang luas, kami juga menjelajahi pasar game di Akihabara, dan melintasi wilayah-wilayah komersial seperti Shinjuku. Selama tiga malam, kami menginap dan merasakan ketenangan di pinggiran kota Gotokuji. Di kota kecil ini, kami juga mampir ke kuil tempat patung-patung kucing Maneki Neko menjadi catatan harapan masyarakat kota itu.

Ini adalah petualangan spesial, yang pertama, dan menjadi pengalaman tak terlupakan. Terutama ketika upaya kerja penelitian juga memberikan kepuasan batin yang tak ternilai. Padahal, rencana perjalanan ke Tokyo, tadinya hanya sebatas impian di atas kertas, tetapi Tuhan ternyata mengabulkan doa kami dengan caraNya yang tidak terduga. Kami berburu tiket, dan sangat beruntung memperoleh tiket promo ANA ke Tokyo PP hanya 5 juta rupiah, di sana pun kami dapat menyewa apartemen yang besar dengan biaya yang sangat terjangkau. Musim panas di Tokyo membuat kami bisa leluasa memuaskan hasrat berpetualang dan menambah wawasan di berbagai tempat. Tim penelitian kami termasuk yang pertama (dari universitas tempat kami mengabdi sebagai dosen dan peneliti) yang berhasil ke Jepang dengan biaya dari Hibah Dikti, dan kami sangat bersyukur. Terlebih lagi, saya juga mendapat izin untuk membawa kedua putera saya, untuk ikut merasakan perjalanan di negeri sakura tersebut.








Catatan penting kedua ialah, momen spesial di pekan pameran Tugas Akhir Mahasiswa DKV Unindra PGRI bertajuk "Gandrung", yang berlokasi di Aula Gedung Guru PGRI, Jakarta. Pekan pameran yang berlangsung dua kali setiap setahun, yaitu bulan Februari dan September tersebut, kali ini...entah kenapa...menyisakan kenangan yang berbeda. Setelah beberapa tahun membimbing sejumlah mahasiswa, saya sendiri baru menyadari, ternyata ada kepuasan batin tersendiri setiap kali menyaksikan mereka berhasil menyelesaikan kuliahnya dan mengikuti wisuda. Barangkali, karena momen "Gandrung" ini memang baru diselenggarakan beberapa tahun terakhir secara tematik, sehingga gregetnya lebih terasa. Yang jelas, momen "Gandrung" bukan sekadar untuk memamerkan hasil karya atau unjuk kebolehan para mahasiswa yang telah berhasil lulus sidang. Di balik perjalanan panjang yang menguras energi, ketahanan mental, bahkan mungkin menguras finansial mereka demi meraih cita-cita, ada hikmah kehidupan yang lebih berharga untuk direnungkan sebagai manusia ciptaan Tuhan dan makhluk sosial budaya. Kebahagiaan saya masih ditambah dengan kesempatan untuk berfoto bersama beberapa dari mereka sebagai bagian dari kenangan, dan dapat rezeki bingkisan lukisan wajah dari mahasiswa pelukis berbakat Roy Kurniawan.






Saya bersyukur pada Allah SWT, bahwa di tahun 2017 ini, saya memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari semua perjalanan hidup itu.  

Rabu, 14 Desember 2016

Moana: Perempuan dan Jantung Kehidupan

Kekayaan laut dan kesuburan di pulau-pulau yang hijau mendadak dihantui kegelapan, ketika jantung Te Fiti, Sang Dewi Pulau dicuri oleh Maui, manusia yang dibesarkan oleh para dewa. Akibatnya, panen gagal, ikan-ikan menghilang, cuaca tidak bersahabat, dan rakyat yang tinggal di kepulauan  wilayah Samudera Pasifik pun harus menderita berkepanjangan.

Sejak menit pertama dimulai, film musikal animasi 3D Moana sudah mampu membuat penontonnya terpana dengan gambar-gambar fantasi penuh warna. Animasi produksi Disney garapan duet sutradara Ron Clements dan John Musker ini menampilkan detail elemen visual yang begitu “real”. Sebagai pembuka, karakter Mau’i (suara oleh  Dwayne Johnson) dimunculkan mengiringi tuturan narasi yang bergaya flashback, dengan intonasi yang sedikit mencekam, sehingga membuat penonton  mulai penasaran.  

Apakah rakyat harus terus menderita? Tentu saja tidak. Di sinilah, nafas film itu dimulai. Dari suasana mencekam, secara perlahan penonton diajak berpindah untuk menikmati hentakan irama musik pesisir yang gembira. Adegan demi adegan menghadirkan karakter Moana Waialiki (suara oleh Auli’i Cravalho), putri Kepala Suku Tu Waialiki, dari mulai kecil hingga dewasa.  Sosok yang kemudian dibangun untuk merepresentasikan seorang perempuan penjelajah laut yang perkasa di dunia  petualangan samudera.  

Film Animasi 3D Musikal: Moana, Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=LKFuXETZUsI
Sepanjang menonton film animasi musikal ini, penonton terus diajak berpindah secara dinamis dari suasana gembira, mencekam, komedi, sentimental, gembira lagi, tegang lagi, lucu lagi, sentimental lagi, begitu seterusnya, dan secara  keseluruhan sangat menghibur.  Secara visual, kekuatan film Moana terletak pada setting suasana kepulauan dan lautan yang indah, penuh kemilau warna-warna terang yang kontras. Penonton seolah diajak untuk berimajinasi tentang  sumber kehidupan yang tak ada batasnya.

Selain itu, ada Moana dan Maui sebagai tokoh sentral dengan karakter visual  yang kuat. Moana sebagai anak kepala suku adalah khas “seorang putri yang cantik dan  menarik”, digambarkan melalui wajah oval dan mata bulat besar, gaya rambut ikal panjang terurai, tubuh semampai namun terampil memanjat, menyelam, melompat, dan berlari. Kemudian Maui digambarkan sebagai pria yang kuat, sedikit egois, bisa berubah menjadi berbagai makhluk, bertubuh besar yang dipenuhi tato sebagai catatan perjalanannya, namun juga berhati lembut.  

Ditambah lagi, rangkaian lagu yang mengiringi sejumlah adegan penting seolah ikut menguatkan pesan yang ingin disampaikan dalam film ini, bahwa perjuangan hidup menjadi hak dan kewajiban setiap makhluk, baik perempuan ataupun lelaki. Akan tetapi, jantung kehidupan itu sendiri diumpamakan sebagai  “jantung Sang Dewi Te Fiti”, jantung “perempuan”.


Bumi yang direpresentasikan melalui sosok Dewi Pulau Te Fiti adalah bumi yang divisualisasikan dalam bentuk perempuan berselimutkan pepohonan, yang  kesuburan dan kesejahteraan rakyatnya terletak dalam bentuk spiral sebagai “Heart of Te Fiti”.  Itulah sebabnya bumi, tanah air, tempat manusia berpijak, disebut juga  sebagai ibu pertiwi. Film animasi musikal Moana tidak hanya menghibur, tetapi juga diperkaya dengan mitologi. Karakter Moana sang penjelajah tangguh dan Dewi Te Fiti seolah mewakili sebuah pesan yang dalam tentang makna dari jantung kehidupan yang sesungguhnya bagi manusia.  Film Moana secara apik  berhasil mendesain sebuah konstruksi pesan yang dalam, terutama ketika peran gender menjadi bagian di dalam media dan seni, khususnya film animasi.   

Sabtu, 03 Desember 2016

Menulis Artikel Ilmiah; Kriteria Best Paper di Konferensi Internasional

Bagi seorang dosen, melaksanakan kegiatan riset adalah bagian dari Tri Darma Perguruan Tinggi. Tantangannya, dosen pun dituntut untuk selalu kreatif mengembangkan gagasan melalui tulisan-tulisan ilmiah. Cara-cara untuk merangsang kreativitas menulis ini di antaranya adalah harus aktif mengikuti call papers dalam seminar atau konferensi nasional maupun internasional.

Saat saya masih menjadi mahasiswa S3 di Institut Teknologi Bandung dulu, ada kewajiban untuk menerbitkan makalah dalam prosiding dan jurnal, baik nasional maupun internasional. Kewajiban ini semula dirasakan sangat berat, karena tidak mudah untuk menyelesaikan sebuah riset dan menuliskannya dalam bentuk artikel ilmiah. Akan tetapi, dengan berjalannya waktu,  hal yang semula menjadi kewajiban lantas berubah menjadi sebuah keasyikan. Bahkan setelah saya resmi menyandang gelar Doktor,  dorongan untuk terus mengeluarkan gagasan ilmiah menjadi sebuah kebutuhan. Artinya, segala sesuatu yang awalnya tidak biasa dan sulit menjadi hal yang menyenangkan secara akademik. Kuncinya ternyata sederhana, yaitu meniatkan kesungguhan untuk memulai dan tetap bersemangat untuk terus belajar.

Saya teringat sebuah ayat, “....dan apabila dikatakan “Berdirilah kamu”, maka berdirilah kamu, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat...” (QS Al Mujaadilah:11)

Makna ayat ini baru saya pahami belakangan. Alhamdulillah (itupun mungkin baru pemahaman yang sedikit). Akan tetapi, pengalaman saya mengikuti berbagai konferensi nasional dan internasional, baik di dalam maupun luar negeri, akhirnya berhasil mengantarkan salah satu artikel ilmiah saya yang berjudul Understanding Visual Grammar On The Stop Smoking Public Service Announcement: Analysis of Television Ad “Vocal Cords Loss Due To Smoke” untuk meraih Best Paper pada The 1st International Conference of Vocational Higher Education (ICVHE) pada November 2016 lalu. Sebuah Konferensi Internasional dari Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia yang mengusung tema “Innovation on Vocational Higher Education”. Konferensi ini sejak Juli telah menyeleksi ratusan makalah riset dan meloloskan 92 riset terbaik dari berbagai universitas, baik di dalam dan luar negeri (Lihat: http://vokasi.ui.ac.id/r1/index.php/id/BeritaVokasi/229.)


Peneliti (baju hijau) bersama rekan-rekan Dosen Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta.

Melalui tulisan ini, saya ingin sedikit berbagi, bahwa ada empat (4) hal yang memungkinkan sebuah artikel ilmiah berbasis riset dapat meraih “Best Paper” dalam Konferensi Nasional ataupun Internasional, yaitu:
1. Novelty (Kebaruan), artinya artikel ilmiah harus menyajikan kebaruan dari objek yang diteliti maupun dalam konteks pembahasannya berdasarkan teori yang digunakan.
2. Originality (Orisinalitas), artinya objek yang diteliti merupakan karya orisinal, sebagai gagasan ilmiah peneliti sendiri, dan belum pernah dibahas oleh peneliti lain.
3. Sistematically (Sistematis), artinya pembahasan objek penelitian mampu disusun secara sistematis dan mudah dipahami oleh semua kalangan, mulai dari latar belakang masalah, tinjauan pustaka, metode atau pendekatan yang digunakan, teori yang dijadikan acuan, serta temuan riset sebagai simpulan penelitian.
4. Relevant (Relevan), artinya pembahasan objek penelitian relevan dengan penerapan dan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, sekaligus dapat menjadi sumbangan pemikiran yang berguna untuk pengembangan ilmu secara teoritis dan praktis.

Semoga bermanfaat. Salam edukasi.

Jumat, 07 Oktober 2016

New MacGyver dan Karakter Richard Dean Anderson yang Tak Tergantikan

Penonton setia dan penggemar fanatik serial televisi “MacGyver” di tahun 1985-1992 barangkali dipenuhi harap-harap cemas ketika akhirnya serial “New MacGyver” diproduksi dan tayang  di jaringan televisi di Amerika dan negara-negara lain di dunia, termasuk di Indonesia (lewat saluran AXN). Kerinduan pada karakter MacGyver yang diperankan oleh Richard Dean Anderson seyogyanya dapat terobati  setelah lebih dari 20 tahun menanti kembalinya kisah petualangan dan aksi sang agen rahasia Angus MacGyver.

Sebagai tontonan mengasyikan di tahun itu, rasa kangen terhadap karakter MacGyver yang diciptakan oleh Lee Davis Zlotoff ini bukan tanpa alasan. Setiap kali menyaksikan akting MacGyver, penonton seperti diajak untuk memahami pesan-pesan kemanusiaan melalui kepribadian seorang agen rahasia yang juga seorang ilmuwan, mantan teknisi di Perang Vietnam.  

MacGyver divisualisasikan memiliki kepribadian yang sederhana, berhati lembut, tidak suka menggunakan kekerasan, apalagi senjata api. Dia juga seorang pekerja keras, setia, gemar menolong, dan meskipun punya wajah yang tampan, dia selalu bersikap sopan pada wanita, alias bukan playboy. Terlebih lagi, dengan kecerdasannya di bidang ilmu pengetahuan alam, dia sigap mencari solusi untuk menghadapi problem-problem yang sulit hanya dengan menggunakan peralatan pisau tentara serbaguna (diistilahkan Swiss Army Knife) dan benda-benda yang ada di sekitarnya. Pikirannya menjadi senjatanya yang utama. Dia seolah membawa pesan pada penonton, bahwa tidak ada benda yang tidak berguna, jangan menganggap remeh apa pun, karena hal-hal kecil dapat menghasilkan manfaat yang besar.

Sumber Foto: http://celebritywc.com/images/richard-dean-anderson-15.jpg dan http://www.cbs.com/shows/macgyver/

Karakter MacGyver yang ditayangkan selama 7 musim telah berhasil menghadirkan tontonan film yang menghibur, mencerdaskan, membangun persepsi yang positif, sekaligus menyentuh hati para penontonnya. Serial ini bahkan telah diangkat sebagai film pada tahun 1994 dalam dua judul, yaitu: MacGyver: Lost Treasure of Atlantis dan MacGyver: Trail to Doomsday.  Penciptaan karakter MacGyver yang  anti-kekerasan tersebut, telah berhasil menjadi sebuah inspirasi yang sulit dilupakan, karena umumnya film aksi masa kini justru  lebih banyak  menghadirkan darah dan kebrutalan perilaku manusia.  

New MacGyver kini memulai debutnya di bulan September 2016 dan ditayangkan sebagai serial di CBS Television dan diperankan oleh Lucas Till, sosok lelaki bertubuh ramping tegap, berwajah runcing, berambut pirang, dengan tampilan sekilas mirip-mirip Richard Dean Anderson. Hanya saja MacGyver tidak lagi ke mana-mana sendirian, tetapi ditemani rekannya Jack Dalton (diperankan George Eads) yang juga gagah dan tampan.  Selain mereka berdua, masih ada tiga teman lainnya yang juga membantu, yaitu Wilt Bozer (Justin Hires), Patricia Thornton (Sandrine Holt), dan Riley Davis (Tristin Mays) yang ahli komputer, tentunya agar tontonan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi yang makin canggih. Mereka menjadi sebuah tim taktis yang tetap bekerja di Yayasan Phoenix di Los Angeles untuk membantu pemerintah Amerika Serikat menyelesaikan masalah-masalah kejahatan di bawah departemen jasa eksternal khusus.

Meskipun New MacGyver tetap berusaha menampilkan gaya MacGyver lama melalui tuturan monolog MacGyver di setiap adegan, dengan tambahan tampilan teks sebagai ensiklopedi tentang materi yang dipakai MacGyver untuk mencipta alat-alat melalui benda-benda yang ada di sekelilingnya, namun kepribadian MacGyver tidak lagi menjadi hal yang dominan. Dalam New MacGyver, penonton diajak untuk mengenal dua karakter yang berbeda secara sekaligus melalui dialog-dialog yang penuh canda.

Dalam situs CBS.com disebutkan bahwa New MacGyver menjanjikan tontonan yang  menyajikan aksi, kesenangan, sekaligus kharisma dari karakter-karakternya. Apakah ini dapat berhasil? Seri di musim pertama ini agaknya masih perlu dibuktikan. Tapi yang jelas, kerinduan penonton terhadap karakter MacGyver yang diperankan Richard Dean Anderson akan sulit tergantikan.

Kamis, 21 Juli 2016

Rahasia di Balik Asyiknya Naik Carousel

Jalan-jalan ke taman bermain, jangan lupa naik Carousel. Daya tarik permainan ini memang luar biasa. Hebatnya Carousel, dari abad ke abad, hingga kini masih tetap dicintai oleh segala usia.  

Carousel atau korsel atau komidi putar, atau dalam bahasa Inggris disebut Merry Go Round adalah jenis permainan yang umumnya ada di taman wisata atau taman hiburan anak-anak. Umumnya model Carousel berbentuk kuda-kudaan yang bisa bergerak naik-turun saat berputar, lengkap dengan iringan musik yang gembira. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, sekarang ada banyak model Carousel yang ditawarkan.

Ada Carousel yang menampilkan bentuk binatang lain seperti harimau, kereta-keretaan, atau mobil-mobilan. Ada yang menampilkan model Carousel megah, lengkap dengan tampilan visual menarik dipenuhi cahaya lampu serta warna. Ada juga model Carousel sederhana, tanpa kuda-kudaan, bahkan tanpa gerakan naik-turun dari objek yang dinaikinya.

Apa sesungguhnya yang membuat orang begitu tertarik untuk menaiki Carousel ? Apakah karena model Carousel-nya yang menarik, atau karena ingin merasakan sensasi berputar-putar di atas platform datar melingkar berukuran besar? Yang jelas, tawaran “keasyikan” naik Carousel semuanya sama, yaitu mengajak peminatnya berputar-putar dalam kecepatan sedang, bahkan ada yang semakin cepat, selama beberapa waktu. Lalu setelah selesai menaikinya, biasanya orang tertawa puas gembira, sambil berjalan sedikit terhuyung karena efek putaran tersebut.

Mengintip sekilas sejarahnya, permainan Carousel merupakan permainan bola tanah yang dimainkan  oleh para penunggang kuda Arab dan Turki secara serius dalam gerakan saling melempar dan berputar-putar pada Abad ke-12.  Sejumlah tentara Salib Italia yang melihat permainan tersebut kemudian menyebutnya sebagai perang kecil atau “Carosello”. Permainan ini lalu diadopsi lagi oleh Perancis sebagai pertunjukan kompetisi berkuda, dan disebut “Carousel”. Demam permainan Carousel atau komidi putar pun mulai melanda Eropa dan mencapai masa keemasannya di tahun 1800-an (Sumber: International Museum of Carousel Art).

Carousel di Taman Wisata Benteng Van Der Wijck, Gombong.
Sumber Foto: Dendi Pratama

Keinginan bawah sadar manusia untuk merasakan sensasi berputar-putar itu sebenarnya tidak terlepas dari pengaruh alam semesta. Ini disebabkan seluruh benda di alam semesta memang melakukan gerakan berputar untuk mencapai keseimbangan. Bulan bergerak berputar pada porosnya. Sambil bergerak, bulan juga  berevolusi, berputar mengelilingi bumi. Lalu bersama bumi, bulan pun bergerak berputar mengelilingi matahari. Bumi tempat kita berpijak pun melakukan rotasi, bergerak pada porosnya, menimbulkan pergantian siang dan malam. Lalu sambil berotasi, bumi bersama planet-planet lainnya juga bergerak mengelilingi matahari, menimbulkan pergantian musim-musim. Semua benda langit berputar mengelilingi pusat Galaksi Bimasakti. Bahkan temuan sejumlah lubang hitam (black hole) dari yang kecil sampai yang superbesar di tahun 2015  juga menunjukkan kekuatan gaya gravitasi yang mampu menyedot apa pun dengan gerakan berputar.

Dengan kata lain, keinginan untuk berputar seolah telah menjadi kodrat manusia sebagai bagian dari alam semesta, yaitu untuk tetap menjaga keseimbangan dirinya, terutama  keseimbangan jiwa dan pikiran. Bisa jadi karena adanya kebutuhan dasar makhluk hidup untuk menemukan “keseimbangan” yang dirindukan seperti saat manusia sedang bertawaf  mengelilingi Ka’bah. Ekspresi untuk menyikapi kehidupan manusia yang diibaratkan roda berputar ini juga seperti kata lirik lagu lama Benny Soebardja (“Apatis”, 1978):

Roda-roda terus berputar, tanda masih ada hidup, karna dunia belum henti, berputar melingkar searah....

Jadi wajar saja kalau kita selalu rindu ingin naik Carousel. Yang pasti, rahasia asyiknya berputar hanya bisa dirasakan diri sendiri. Yuk, naik Carousel

Kamis, 14 Juli 2016

Jason Bourne (Movie): Matt Damon dan Karakter Bourne yang Bikin Kangen

Kemunculan film Jason Bourne di akhir Juli 2016, segera jadi incaran para penggemarnya yang sudah kangen berat dengan Bourne. Bukan hanya karena daya tarik karakter mantan agen rahasia CIA Jason Bourne yang memikat, dan tidak pernah membosankan. Akan tetapi lantaran seri film “Bourne” ini memang selalu asyik ditonton karena sajiannya yang penuh aksi, misteri, dan ketegangan.

Sama seperti pada seri yang diperankan sebelumnya, yaitu The Bourne Identity (Tahun 2002), The Bourne Supremacy (Tahun 2004), dan The Bourne Ultimatum (Tahun 2007), aksi Matt Damon juga mampu memacu detak jantung dari awal hingga akhir film. Kekuatan skenario dari film-film Bourne adalah membangun rangkaian misteri yang kompleks dan berbelit tentang oknum-oknum di dalam organisasi CIA yang tidak berhenti memburu Jason Bourne. Di film itu, digambarkan ingatan Bourne tentang identitas dirinya sudah pulih, akan tetapi Nicky Parsons (lawan main lamanya yang diperankan Julia Stiles) kembali mengingatkan, “Remembering everything it doesn’t mean you know everything”. Dengan kata lain, kita mungkin tahu segalanya, akan tetapi belum tentu tahu betul segalanya.


Ungkapan ini pun menjadi sarat makna karena sepanjang menonton filmnya, penonton memang diajak untuk terus menelusuri sepak terjang perjalanan kehidupan mantan agen rahasia CIA David Webb alias Jason Bourne. Bourne dikisahkan terus berusaha untuk mengungkap kebenaran tersembunyi dari masa lalunya yang pernah terurai laksana puzzle, sehingga ia harus menyatukan kepingannya satu demi satu. Skenario yang ditulis oleh Paul Greengrass (merangkap sutradara), Matt Damon, Christopher Rouse, tetap mampu mengacak-acak imajinasi dan daya pikir penonton hingga penghujung film, lengkap dengan adegan kejar-kejaran, perkelahian, sedikit bumbu romansa, dan pergantian setting super cepat, yang membuat bola mata dipaksa untuk ikut berlari-lari mengikuti pergerakan adegan. Lalu di akhir kisah, seperti yang sudah-sudah, ujung-ujungnya film ini pun tetap masih menyisakan ruang terbuka untuk sekuel judul berikutnya.

Matt Damon dengan kekuatan karakter Jason Bourne seolah telah menyatu di dalam dirinya, sehingga jika terpaksa kita harus menonton film lain yang diperankan oleh Matt Damon, terkadang persepsi visual kita tentang dirinya tetap terpusat pada karakter Bourne.  Narasi karakter Bourne yang aslinya ditulis oleh novelis Robert Ludlum berhasil direpresentasikan melalui raut dan ekspresi wajah, sorot dan pandangan mata, bentuk fisik, sikap tubuh, hingga tindak laku yang dimainkan Matt Damon. Bourne dalam persepsi penontonnya adalah karakter yang tangguh, berani, kuat, cerdas, cermat,  sekaligus perkasa, namun jauh di lubuk hatinya yang dalam, ia memiliki sisi yang lembut, penuh kasih, setia, dan seorang pelindung. Ekrepsi wajah dinginnya yang kerap hadir hanyalah  akibat dari perjalanan kehidupannya yang keras. Kehidupan yang pasti mampu mengubah siapa pun, terlebih bila sudah menyangkut urusan hidup dan mati. 

Selain menghadirkan karakter lama dari Julia Stiles, selebihnya film ini memunculkan karakter baru, termasuk menampilkan aktor senior Tommy Lee Jones. Karakter Bourne adalah karakter yang mewakili sisi gelap dan sisi terang manusia. Karakter yang memahami kehidupan realitas manusia apa adanya. Karakter yang bikin kangen.

Senin, 13 Juni 2016

Finding Dory, Sebuah Ruang Visual Bawah Laut Penuh Makna

Liburan lebaran sebentar lagi. Ada satu hal yang paling ditunggu anak-anak kali ini. Mereka pasti sudah tak sabar ingin segera menonton film Finding Dory. Film animasi tiga dimensi yang diproduksi Pixar Animation Studios ini memang layak ditonton.  Film ini mengangkat tema penuh makna tentang pentingnya sebuah keluarga. Bagi masyarakat Indonesia, Idul Fitri identik dengan momen kunjungan antarkeluarga untuk saling bermaafan. Kehadiran film Finding Dory bisa menjadi pilihan yang tepat. Melalui film ini, anak-anak tidak hanya dapat lebih memahami  tradisi pertemuan keluarga, tetapi juga dapat belajar tentang kasih sayang.  

Sebagai sekuel dari Finding Nemo,  Finding Dory yang kembali disutradarai Andrew Stanton juga masih menampilkan Nemo (disuarakan Hayden Rolence),  Marlin (ayah Nemo, disuarakan Albert Brooks), dan tentu saja Dory (disuarakan Ellen DeGeneres). Mereka bertiga melakukan perjalanan panjang dalam upaya membantu Dory untuk menemukan keluarganya di California, yang sayangnya Dory sendiri lupa tepatnya berada di mana. Maklum saja, Dory memang ikan pelupa, dan ia sempat terpisah dari sahabat-sahabatnya itu karena –sama seperti kasus Nemo—ia yang ditangkap oleh manusia. Hanya saja, manusia yang menangkapnya kini adalah para penyelamat biota laut. 

Dialog-dialog jenaka, kadang mengharukan, bukan sebatas percakapan biasa, tetapi  membawa pesan yang mudah dicerna. Ditambah lagi sejumlah adegan kejar-kejaran yang kadang menggelikan sekaligus tegang. Semuanya divisualisasikan dalam ruang bawah laut yang kaya warna-warna kontras.  Elemen-elemen laut disajikan dengan detail-detail yang indah, lengkap dengan aneka jenis makhluk laut yang tampilannya imajinatif.

Dalam konteks studi tentang ruang (proxemics), Finding Dory berhasil menyampaikan pesannya melalui ilustrasi ruang visual bawah laut yang penuh makna. Film ini juga mampu mempresentasikan objek dan waktu petualangan karakternya yang menimbulkan rasa penasaran penonton. Dalam hal ini, ruang bawah laut adalah wadah bagi Dory sebagai objek dan karakter visual utama, yang berenang dengan pergerakan cepat melewati peristiwa demi peristiwa sebagai waktu perjalanan penuh petualangan. Pertemuan Dory dengan Bailey, sang Paus putih, dengan Hank, si Gurita, atau saat ia tertangkap untuk dikarantina dan dipindahkan ke wilayah lain, menciptakan adegan-adegan yang tidak monoton. Mengulang sukses gaya bercerita di Finding Nemo, secara perlahan tetapi pasti, penonton di film ini digiring untuk memahami makna pesan tentang pentingnya arti keluarga, nilai-nilai persaudaraan, persahabatan, perjuangan, sifat tidak mudah menyerah, keyakinan serta semangat. Rasa dan hasrat Dory sebagai ikan adalah metafora dari perasaan dan hasrat pada manusia secara realitas dan apa adanya, sehingga  mendorong anak-anak untuk ikut merasakan, dan yang terpenting adalah memahami makna pesannya.

Catatan Kecil Akhir Tahun 2017

Tahun 2017, menjadi catatan tersendiri buat saya sebagai seorang dosen dan peneliti, karena di tahun ini, ada banyak cerita yang sebenarnya ...